Berita Viral
Kasus Siswa SD Gantung Diri, Terungkap Bukan Hanya Tak Bisa Beli Buku Tulis dan Pulpen, Tapi Juga. .
Kasus kematian YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026), menjadi sorotan
Jemy Didok: "Tanggapan Daud Mangalla betul itu. Kenyataan di lapangan keluarga dekat kepala desa dan perangkatnya yang diutamakan."
Chak Van Mark: "Usul saja, sebaiknya dibuatkan Satgas Pemberantasan Kemiskinan yang melibatkan seluruh stakeholder dari desa sampai pusat. Agar pengawasan dan laporan berkala dan berjenjang. Karena kalau model sekarang, di desa dan daerah ada pro dan kontra karena dendam politik Pilkades sampai Pilkada, akhirnya yang miskin tapi lawan politik tidak akan dilayani. Nanti kalau sudah muncul kasus begini, kepala desa dan pejabat daerahnya mulai mengarang jawaban yang indah. Juga agar tidak ego sektoral. Demikian semoga bermanfaat."
Sambas Canary: "Intinya banyak salah sasaran, orang mampu masih banyak yang menerima bansos juga, yang datanya asal kerja saja. Waktunya pemerintah tegas setegas-tegasnya ke bawah kontrol rakyat miskin, sebelum terlambat."
ChrisIvan Sempang: "Bukti aparat pemerintah dan negara tidak memperdulikan rakyatnya. Aparat desa itu lebih banyak hanya memikirkan bantuan untuk orang-orangnya, bukan memikirkan warganya yang miskin."
Ruslan Putra: "Bukannya aparat desa tidak tahu kalau masyarakatnya miskin, tetapi kebanyakan memikirkan kerabatnya dulu. Begitu kebanyakan."
Baca juga: Polisi Hentikan Kasus Guru SD Christiana Budiyati, Dilaporkan Gegara Nasihati Murid
Gubernur NTT Tegas Ancaman Hukum atas Kasus Kematian Akibat Kemiskinan
Sebelumnya, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mengeluarkan ancaman keras kepada aparat yang bertanggung jawab jika kembali terjadi kematian akibat kemiskinan ekstrem di wilayahnya. Ancaman ini muncul menyusul kasus tragis bunuh diri seorang anak berusia 10 tahun, YBS, di Ngada, yang diduga karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk sekolah.
"Jangan ada lagi kejadian seperti ini. Jika besok terjadi lagi, saya akan tuntut orang-orang yang bertanggung jawab," tegas Melkiades saat memberikan sambutan pada peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa, Rabu (4/2/2026).
Gubernur yang juga politisi Golkar ini menegaskan bahwa ancaman hukum tersebut berlaku bagi siapa saja, termasuk dirinya sendiri, jika terbukti lalai dalam mengurus warga negara. "Kalau saya salah, saya siap dituntut. Tidak boleh ada warga negara yang meninggal hanya karena hal seperti ini," ujarnya dengan nada kecewa.
Melkiades mengaku malu atas kasus kematian akibat kemiskinan ekstrem yang terjadi di NTT, apalagi pemerintah daerah sudah memiliki dana bantuan sosial yang cukup besar.
"Kita punya program PKH dan perangkat sosial lainnya. Uang triliunan mengalir untuk orang miskin, tapi masih ada yang meninggal karena masalah seperti ini. Ini tidak boleh terjadi," tegasnya.
Kasus meninggalnya YBS harus menjadi yang terakhir, tegas Melkiades. "Saya agak kaget. Ini harus yang terakhir. Besok, secara berjenjang, siapa yang bertanggung jawab akan kami eksekusi," pungkasnya.
Baca juga: Polisi Ungkap Faktor Siswa SD di Ngada NTT Gantung Diri
Isi Surat yang Ditinggalkan YBS sebelum Akhiri Hidup
Tragedi ini semakin mengiris hati setelah aparat Polres Ngada menemukan secarik kertas berisi surat wasiat tulisan tangan YBS menggunakan bahasa daerah setempat.
Surat tersebut merupakan pesan perpisahan untuk sang ibu dan keluarga.
Berikut isi surat yang ditinggalkan YBS:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Baca juga: Sosok Siswa SD di Ngada NTT, Pesan Terakhirnya untuk Ibu dalam Surat Isinya Memilukan
Terungkap Juga Berkali-kali Ditagih Uang Sekolah Rp1,2 Juta
Belakangan terungkap juga, YBR (10), meninggal dunia akibat gantung diri, bukan hanya karena orang tuanya tidak mampu membayar buku tulis dan pulpen, tetapi soal cicilan biaya sekolah.
Sebelumnya, YBR dan siswa lainnya beberapa kali ditagih uang sekolah sebesar Rp 1,2 juta per tahun. YBR tercatat sebagai siswa di SD negeri dengan biaya sekolah Rp 1.220.000 per tahun yang dibayar secara cicilan.
Orang tua YBR telah membayar Rp 500 ribu untuk semester pertama, namun masih tersisa Rp 720 ribu yang harus dilunasi untuk semester kedua.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Pemberdayaan, Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMDP3A) Ngada, Veronika Milo, menjelaskan bahwa pembayaran tersebut bukan tunggakan karena masih dalam tahun berjalan dan sistem pembayaran dilakukan secara bertahap. "Untuk kelas IV, pembayaran dilakukan cicil, tahap pertama semester satu sebesar Rp 500 ribu dan sudah dilunasi. Sisanya Rp 720 ribu untuk semester dua," ujar Veronika pada Kamis (5/2/2026).
Tim UPTD PPA DPMDP3A Ngada telah melakukan investigasi dengan menemui kepala sekolah, guru, keluarga YBR, dan masyarakat setempat untuk menggali informasi terkait tragedi ini.
Veronika menegaskan bahwa tidak ada ancaman pengusiran terhadap siswa yang belum melunasi biaya sekolah. Sekolah hanya menginformasikan kepada siswa untuk menyampaikan kepada orang tua terkait cicilan pembayaran. "Setiap hari, anak-anak dikumpulkan setelah pulang sekolah untuk menyampaikan informasi pembayaran cicilan," tambah Veronika.
Baca juga: Sosok Siswa SD di Ngada NTT, Pesan Terakhirnya untuk Ibu dalam Surat Isinya Memilukan
Kronologi Tragedi Anak SD di NTT
1. Kondisi Awal Seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS, hidup dalam kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Ayahnya telah meninggal sebelum ia lahir, dan ia tinggal bersama neneknya yang sudah berusia sekitar 80 tahun.
2. Permintaan Sederhana Sehari sebelum kejadian, YBS meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah. Namun, ibunya tidak mampu memenuhi permintaan tersebut karena keterbatasan ekonomi.
3. Kondisi Sekolah dan Pembayaran YBS bersekolah di SD negeri yang memungut uang sekolah sebesar Rp 1.220.000 per tahun, yang dibayar secara cicilan. Orang tua YBS telah membayar Rp 500 ribu untuk semester pertama, dan masih tersisa Rp 720 ribu untuk semester kedua.
4. Kejadian Tragis Pada pagi hari kejadian, YBS tidak berangkat ke sekolah seperti biasanya. Ia terlihat duduk di depan rumah neneknya. Beberapa jam kemudian, tubuh YBS ditemukan gantung diri di sebuah pohon cengkeh oleh warga sekitar.
5. Surat Wasiat Aparat Polres Ngada menemukan surat wasiat tulisan tangan YBS yang berisi pesan perpisahan kepada ibunya dan keluarga, yang menunjukkan kesedihan dan keputusasaan anak tersebut.
6. Respon Pemerintah dan Masyarakat
- Menteri Sekretaris Negara menegaskan pentingnya pemantauan aktif oleh kepala desa terhadap masyarakat rentan agar kejadian serupa tidak terulang.
- Anggota DPR menyoroti kegagalan negara dalam memberikan perlindungan anak, terutama dalam hal pendidikan dan bantuan sosial.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan duka cita dan menegaskan perlunya perhatian psikososial selain bantuan finansial.
- Gubernur NTT mengancam akan menuntut aparat yang lalai dalam menangani kasus kemiskinan ekstrem.
7. Evaluasi dan Tindakan Lanjutan Pemerintah daerah dan kementerian terkait melakukan koordinasi untuk memberikan pendampingan kepada keluarga dan memastikan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya.
(*/Tribun-medan.com)
Artikel ini sebagian tayang di Pos-Kupang.com
Kasus kematian Siswa SD YBR
Kematian Siswa SD di NTT
Kasus Siswa SD Gantung Diri
Penyebab Siswa SD Bunuh Diri
Tribun-medan.com
Kronologi Siswa SD di NTT Gantung Diri
| Klarifikasi JK soal Isu Kredit Rp30 Triliun Memantik Revolusi Energi: PLTA Kalla vs PLTS Prabowo |
|
|---|
| Ayah Tiri Bejat di Lamongan, Hamili Anaknya yang Masih Berusia 14 Tahun |
|
|---|
| RESPONS Abu Janda Dipolisikan Atas Tuduhan Provokasi Video Jusuf Kalla: Itu Dasar Benci dan Dendam |
|
|---|
| PERNYATAAN Lengkap dr Tifa Tolak Berdamai dengan Jokowi: Tetap Berdiri, Tetap Melawan Tanpa Kompromi |
|
|---|
| TERBARU Pernyataan Roy Suryo Sebut Jokowi Kalah Total, Tak Sudi Lakukan Restorative Justice |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/POTRET-rumah-gubuk-tempat-YBR-hidup-bersama-sang-nenek.jpg)