Berita Viral

Kasus Siswa SD Gantung Diri, Terungkap Bukan Hanya Tak Bisa Beli Buku Tulis dan Pulpen, Tapi Juga. .

Kasus kematian YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026), menjadi sorotan

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/POS.KUPANG.COM/CHARLES ABAR
POTRET rumah gubuk tempat YBR (10) hidup bersama sang nenek di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Selasa (3/2/2026). Siswa kelas IV SD itu memilih mengakhiri hidup. 

Ringkasan Berita:Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.

 

TRIBUN-MEDAN.COM - Kasus kematian YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026), menjadi sorotan hangat.

YBR mengakhiri hidup dengan gantung diri pada seutas tali yang terikat di pohon cengkeh. Jasadnya dalam posisi tergantung ditemukan oleh warga Desa Naruwolo. 

Tempat kejadian perkara (TKP) di kebun, tidak jauh dari gubuk tempat YBR bersama sang nenek tinggal. Hanya berjarak sekitar 3 meter. 

Selama ini, anak bungsu dari lima bersaudara ini hidup bersama sang nenek. Ibunya bernama Maria Goreti Te'a (47), tinggal bersama empat kakak YBR di rumah terpisah. Sedangkan ayah YBR merantau ke Kalimantan sudah selama 12 tahun. 

Maria Goreti mengisahkan kejadian sebelum anaknya bunuh diri. Menurutnya, pada Kamis pagi, YBR mengeluh pusing sehingga tidak mau pergi ke sekolah.

Maria Goreti khawatir anaknya ketinggalan pelajaran sehingga meminta YBR tetap masuk sekolah. Dia menawarkan mengantar YBR dengan menumpang ojek. Setelah itu, Maria Goreti tidak mengecek lagi anaknya.

Pada Kamis siang, dia mendapat kabar dari tetangga bahwa anaknya meninggal. “Saya kaget ada kabar dari tetangga. Saya pikir dia ada pergi sekolah,” ucap Maria Goreti saat ditemui Pos-Kupang di rumah duka, Jerebuu, Selasa (3/2/2026).

Dia menjelaskan bahwa YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, YBR diasuh oleh neneknya. Keduanya menempati gubuk bambu yang berada di kebun sang nenek. Bangunan gubuk itu berukuran sekitar 2 x 3 meter.

Menurut keterangan sang nenek, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia tak pernah menunjukkan perilaku aneh. Keluhannya hanya sederhana, buku tulis dan pulpen untuk sekolah. “Kami selalu berusaha penuhi semampu kami,” ujar sang nenek berusia 80 tahun itu dengan tetesan air mata, Selasa (3/2/2026).

Selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk makanan, mereka mengandalkan hasil kebun seperti pisang dan ubi.

Sementara, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo meninjau lokasi dan bertemu keluarga korban. 

“Setelah membaca berita di media, saya sangat tersentuh. Saya ingin memastikan langsung apakah benar korban tinggal bersama nenek di pondok. Dan setelah saya lihat, itu benar,” kata Gerardus Reo, Selasa (3/2).

Ia juga menemukan persoalan administrasi kependudukan yang membuat keluarga ini luput dari sistem bantuan. “Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo," ujarnya.

"Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,”ujar Gerardus Reo dengan raut wajah sedih.

Baca juga: Polisi Ungkap Faktor Siswa SD di Ngada NTT Gantung Diri, Bukan Cuma Tak Mampu Beli Buku dan Pena

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved