Banjir dan Longsor di Sumut

Rumah Hanyut dan Harus Terjang Banjir untuk Bawa Bayinya yang Sekarat ke RS, Mistera: Butuh Popok

Mistera bercerita pada saat banjir terjadi, anaknya yang masih bayi umur 8 bulan  memang sedang sakit demam, muntah dan mencret (munmen)

|
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
KORBAN SELAMAT - Senangnya Mistera saat mendapatkan baju bayi untuk anaknya,Minggu (7/12/2025). Mistera satu diantara korban banjir  yang rumahnya hanyut di Desa Hutanabolon, Kabupaten Tapteng (Tribun Medan/Anisa) 

TRIBUN-MEDAN.com -  Seorang Ibu korban banjir Mistera mengakisahkan perjuangan menyelamatkan bayinya pada saat banjir terjadi di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa (25/11/2025) lalu.

Saat kondisi bencana, anaknya yang masih bayi umur 8 bulan sedang sakit pula. Kondisi badan demam, muntah dan mencret (munmen). Pikiran Mistera terbagi-bagi melihat kondisi banjir dan bayinya.

Bencana banjir bandang yang terjadi di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa (25/11/2025) lalu begitu mengerikan.

Duka yang mendalam pun dirasakan masyarakat yang tinggal di area perbukitan ini. Satu kampung di Kelurahan tersebut, tepatnya di Lorong 3 dan 4 hampir musnah.

Perkampungan yang awalnya dihuni warga untuk melangsungkan hidup seolah-olah sirna ditelan bumi. Rumah-rumah masyarakat Desa tertimbun tanah tak terlihat lagi.

Kalaupun ada, kondisinya rusak parah dan hampir tertutup tanah liat yang terbawa air banjir.

Kayu gelondongan dan batu-batu gunung berukuran besar yang terbawa longsor maupun banjir terlihat menumpuk di pemukiman.

Baca juga: Kronologi Ditangkapnya Thomas Tarigan, Dugaan Penggelapan SHM, WKI Beri Apresiasi

Sepanjang perjalanan menuju ke Hutanabolon, tepatnya di Lorong 3 dan 4, hampir semua rumah warga tinggal lantainya saja.

Beberapa terlihat sisa-sisa pondasinya saja, dan bagian tembok, maupun atapnya sudah tersapu air atau tertimbun longsor.

Untuk menuju empat tersebut butuh persiapan ekstra seperti mobil double cabin, atau motor trail. Sebab, masih ada jalan masih banjir setinggi betis orang dewasa. Ditambah, lumpur masih tinggi dan sisa-sisa lumpur masih berada di kanan kiri jalan.

Untuk bertahan hidup, masyarakat betul-betul mengandalkan pemerintah ataupun bantuan. Sejumlah warga yang masih bertahan terlihat memasak air menggunakan kayu bakar, dan makan seadanya.

Baca juga: Termasuk TPL, 4 Penggundul Hutan Tapanuli Masuk Daftar Subjek Hukum, Ada 2 Pengusaha Asal Tapsel

Seorang warga Hutanabolon,  Mistera bercerita pada saat banjir terjadi, anaknya yang masih bayi umur 8 bulan  memang sedang sakit demam, muntah dan mencret (munmen). Di hari itu niat mereka memang mau pergi berobat.  

Namun pada pukul 07.00 WIB, tiba-tiba  hujan  cukup deras. Mereka pun menunggu hujan reda. Namun, sang suami melihat air paret sudah tinggi dan masuk ke rumah. 

Diceritakan Ibu yang memiliki anak satu ini,  ia bersama sang suami mengira itu hanya banjir biasa. Namun lama-lama air meluap makin beras.

Ia bersama sang suami pun panik, dan membawa bayinya ke rumah orang tua yang enggak jauh dari sana. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved