Banjir dan Longsor di Sumut
KORBAN Banjir dan Longsor di Sumut Jadi 318 Orang Tewas, 123 Masih Belum Ditemukan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara mengumumkan pembaruan data sementara korban banjir dan longsor.
TRIBUN-MEDAN.com - Jumlah korban meninggal di Sumatera Utara akibat banjir dan longsor jadi 318 orang, dan 123 belum ditemukan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara mengumumkan pembaruan data sementara korban banjir dan longsor.
Per Sabtu (6/12/2025), total korban meninggal tercatat 318 orang.
“Korban meninggal 318 jiwa, 123 hilang, terluka 647, dan 37.158 mengungsi,” ujar Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Sumut, Porman Mahulae, merujuk data BPBD Sumut.
Bencana yang terjadi sejak Senin (24/11/2025) masih dirasakan di 18 kabupaten/kota, yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Mandailing Natal, Langkat, Deli Serdang, Nias, Serdang Bedagai, Asahan, Batubara, Nias Selatan, Kota Sibolga, Padangsidimpuan, Medan, Binjai, dan Tebing Tinggi.
Baca juga: KISAH Pria Asal Karo Getarkan Hati: Rela Berjalan 117 KM ke Sibolga, Cari Keluarga di Tengah Bencana
Daerah terparah berada di Tapanuli Tengah dengan 91 korban meninggal, 74 hilang, 521 luka-luka, dan 17.007 mengungsi.
Lokasi terdampak terbesar kedua ialah Kabupaten Tapanuli Selatan dengan 85 korban meninggal, 31 hilang, 69 luka-luka, dan 277 mengungsi.
Adapun Kota Sibolga tercatat sebagai daerah terdampak ketiga terparah dengan 53 korban meninggal, 45 luka-luka, 4 hilang, dan 4.259 mengungsi.
Saat ini, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban hilang, memperbaiki akses jalan yang terputus, dan menyalurkan logistik makanan ke daerah terdampak.
Baca juga: Resmi Dihentikan Operasional PT AR, PTPN III dan NSHE, Memperparah Banjir Bandang Batangtoru
Politisi PDIP Desak Bencana Nasional
Berbagai pihak saat ini mendesak Pemerintah Pusat untuk bisa menetapkan bencana yang terjadi di Sumatera sebagai bencana nasional.
Saat ini salah satu pihak yang ikut menyuarakan hal ini adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Deli Serdang, Antony Napitupulu mengungkap banyak alasan mengapa bencana yang terjadi di Sumatera layak untuk ditetapkan sebagai bencana nasional.
"Banyaknya jalan yang terputus karena longsor dan banjir yang mengakibatkan sulitnya akses mengirim bantuan makanan dan bantuan-bantuan lainnya. Karena kondisi ini bantuan tidak dapat sampai ke masyarakat yang mengalami bencana (masih banyak yang belum mendapatkan bantuan)," ujar Antony Napitupulu.
Baca juga: Gus Irawan vs Dirjen PHL Kemenhut, SIPUHH Seperti Karcis Untuk Pengusaha Tebangi Pohon
Antony merasa sedih dan prihatin karena sampai saat ini sudah mau hampir 2 minggu sejak bencana terjadi masih banyak warga dititik-titik bencana yang belum terjangkau oleh petugas.
Korban Meninggal di Sumut Sudah 318 Orang
Update Korban Banjir Longsor di Sumatera
Banjir dan Longsor di Sumut
| Derita Warga Garoga Puasa Sahur Makan Mi Instan |
|
|---|
| Kunjungi Tapteng, Titiek Soeharto dan Kapolri Bawa Bantuan 16 Truk: Semoga Bisa Bermanfaat |
|
|---|
| 33 Korban Banjir dan Longsor Tapanuli Tengah Masih Belum Ditemukan, Begini Kata Basarnas |
|
|---|
| Kepastian Akan Ada Tersangka Banjir Bandang Garoga, Kejagung Terus Dalami Keterlibatan PT TBS |
|
|---|
| Dana Bansos dari Kemensos Tak Kunjung Cair, Warga Hutanabolon Tapteng Masih Tunggu Janji Pemerintah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Rapidin-meninjau-permukiman-warga-yang-terdampak-banjir-bandang.jpg)