Banjir dan Longsor di Sumut
PENYEBAB Banjir dan Longsor di Sumut Bukan soal Hujan, Walhi Sumut Duga Kerusakan Hutan
Walhi Sumut menduga kuat bahwa bencana diperparah oleh kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan di ekosistem di Batang Toru
Ringkasan Berita:-Kerusakan ekosistem hutan Batang Toru memicu banjir besar-Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut menyampaikan, hujan bukan jadi faktor utama penyebab banjir-Walhi Sumut menduga kuat bahwa bencana yang terjadi saat ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan di ekosistem Batang Toru
TRIBUN-MEDAN. com - Penyebab terjadinya banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kota Sibolga, pada Selasa, 25 November 2025, bukan soal hujan saja. Kerusakan ekosistem hutan Batang Toru memicu banjir besar.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut menyampaikan, hujan bukan jadi faktor utama penyebab banjir.
"Sebaliknya, fakta di lapangan menunjukkan adanya campur tangan manusia yang signifikan. Padahal saat banjir tiba, terlihat banyak kayu-kayu terbawa air. Dan jika dilihat dari citra satelit, tampak kondisi hutan yang gundul di sekitar lokasi bencana," kata Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut, Jaka Kelana Damanik, Rabu (26/11/2025).
Walhi Sumut telah berulang kali menyuarakan pentingnya perhatian penuh terhadap ekosistem Batang Toru yang disebut sebagai hutan tropis terakhir di Sumatera Utara.
Wilayah ini mencakup Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.
Kerusakan ekosistem ini sangat mengancam karena wilayah tersebut kaya akan flora dan fauna, termasuk orangutan tapanuli yang paling langka di dunia.
Baca juga: 26 Kawasan di Sumut Terdampak Siklon Senyar, BMKG: Masih Berpotensi Hujan Lebat
Baca juga: Ditemukan 8 Korban Meninggal Akibat Banjir di Sibolga, Batangtoru 13 Meninggal, Puluhan Orang Hilang
Walhi Sumut menduga kuat bahwa bencana yang terjadi saat ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan di ekosistem Batang Toru.
Karena itu, Jaka mengkritik ungkapan intensitas hujan mengakibatkan banjir yang terjadi. Padahal, pemerintah harusnya melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat meminimalisir dampak dari bencana
"Laju deforestasi di wilayah ini sulit dibendung karena perusahaan-perusahaan yang beraktivitas di ekosistem batang toru (harangan tapanuli) melakukan penebangan pohon dengan berlindung dibalik izin yang dikeluarkan pemerintah," ungkap Jaka.
Delapan korban ditemukan meninggal akibat banjir dan longsor di Kota Sibolga.
Kepala SAR Nias Putu Arga Sudjarwadi mengungkapkan update hasil pencarian dan evakuas tim.
Selain 8 orang meninggal, 21 orang dinyatakan masih hilang akibat bencana tersebut.
Berdasarkan data yang Tribun Medan dapatkan 8 orang yang meninggal itu berada di Jalan Perjuangan 2 orang, Jalan Sutoyo LK I Pasar Baru 2 orang. jalan Masjid Budi Sehati 2 orang, Lapo Uci 2 orang.
Sementara data korban hilang berada di tujuh titik yakni Jalan Perjuangan 2 orang, Jalan Beo 1 orang, Lapo Uci 1 orang, Jalan Murai 10 orang, Jalan Kenanga (Aek Habil) 7 orang lebih.
Baca juga: Daftar Nama 4 Korban Sekeluarga Tewas Akibat Banjir Bandang di Tapteng, Ratusan Warga Mengungsi
Penyebab Banjir dan Longsor di Tapteng
Walhi Sumut Duga Ada Kerusakan Ekosistem
Banjir dan Longsor Tapsel
Walhi Sumut
| Derita Warga Garoga Puasa Sahur Makan Mi Instan |
|
|---|
| Kunjungi Tapteng, Titiek Soeharto dan Kapolri Bawa Bantuan 16 Truk: Semoga Bisa Bermanfaat |
|
|---|
| 33 Korban Banjir dan Longsor Tapanuli Tengah Masih Belum Ditemukan, Begini Kata Basarnas |
|
|---|
| Kepastian Akan Ada Tersangka Banjir Bandang Garoga, Kejagung Terus Dalami Keterlibatan PT TBS |
|
|---|
| Dana Bansos dari Kemensos Tak Kunjung Cair, Warga Hutanabolon Tapteng Masih Tunggu Janji Pemerintah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/banjir-bandang-tapteng-tribunmedan.jpg)