Longsor di Sibolangit

Cerita Surya Ginting, Lolos dari Maut saat Keluarganya Tewas Tertimbun Longsor di Sembahe

Malam yang sejuk di kawasan perbukitan Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, warga sedang berkumpul dengan keluarga.

|
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso
LONGSOR SEMBAHE - Momen Surya Dharma Ginting (rambut putih) dipeluk anggota keluarganya setelah bencana longsor menewaskan kedua adik dan beberapa anggota keluarganya, di Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/4/2026). Ia selamat dari maut karena saat kejadian sedang berada di kedai kopi. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Malam yang sejuk di kawasan perbukitan Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, warga sedang berkumpul dengan keluarganya, Selasa (7/4/2026).

Dalam rumah sederhana, di lereng tebing, jauh dari bibir sungai Sembahe, suasana hangat begitu terasa.

Begitu juga dengan keluarga lainnya, bercengkrama seperti biasa.

Sampai akhirnya, sekira pukul 20:00 WIB, hujan deras mengguyur wilayah itu.

Hujan, sudah menjadi hal biasa bagi warga karena memang hampir setiap hari.

Tapi siapa sangka, hujan kali ini membawa petaka bagi warga setempat.

Sekitar pukul 22:00 WIB, tanah di tebing tiba-tiba runtuh, menimbun 8 rumah milik warga setempat.

Sebagian selamat, dan sebagian lagi tertimbun longsor.

Akibatnya, 5 orang meninggal dunia, dan 1 orang mengalami luka-luka akibat tertimbun material rumah yang diterjang longsor.

Kelimanya ialah Gobal Sembiring (39), Riski (14), serta sepasang suami istri Boyke Simorangkir (51), dan Jamila Ginting (48).

Kemudian, seorang perempuan bernama Rosmawati (49) juga tewas.

Ditambah, seorang nenek berusia 70 tahun bernama Sehat Tarigan, ibu dari Gobal Sembiring luka-luka.

Dari peristiwa tragis ini, Surya Dharma Ginting lolos dari maut yang hampir merenggut nyawanya, meski beberapa anggota keluarga tewas.

Mengenakan celana pendek, kaus berkerah warna hitam kecoklatan garis-garis, Surya Dharma Ginting, tak kuasa menahan air matanya.

Sambil berkaca-kaca menahan air matanya, ia bercerita bagaimana bencana secepat kilat meratakan rumah mereka, dan merenggut jiwa.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved