Banjir dan Longsor di Sumut

Terbaru Update BNPB: Di Sumut 301 Orang Meninggal, Aceh 218, Sumbar 193, Total Hilang 507 Orang

Update Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait jumlah korban banjir dan longsor di Pulau Sumatera, Selasa (2/12/2025) sore.

Tayang:
Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/Azis Husein Hasibuan
BANJIR BANDANG - Seorang warga sedang melihat mobil yang melintas usai banjir bandang di Huta Godang, Batangtoru, Tapsel, Kamis (27/11/2025). 

TRIBUN-MEDAN.COM - Update Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait jumlah korban banjir dan longsor di Pulau Sumatera, Selasa (2/12/2025) sore. Korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor tersebut terus bertambah. 

Rincian korban meninggal dunia per provinsi:

Ringkasan Berita:
  • Aceh: 218 orang meninggal, 227 hilang
  • Sumatera Barat: 193 orang meninggal, 117 hilang
  • Sumatera Utara: 301 orang meninggal, 163 hilang

 

Di Sumatera Utara, korban meninggal dunia sudah mencapai 301 Jiwa dan 163 orang masih hilang.

Dari 301 korban jiwa tersebut tersebar di 11 kabupaten/kota dari 17 kabupaten/kota yang terdampak bencana.

Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) tercatat menjadi wilayah dengan dampak paling parah.

Hal itu berdasarkan Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin) BNPB per Selasa (2/12/2025) sore.

Adapun rincian korban meninggal dunia untuk sementara ini di Sumatera Utara adalah sebagai berikut: 

- Kabupaten Tapanuli Utara: 32 korban meninggal dunia

- Kabupaten Tapanuli Tengah: 86 korban meninggal dunia

- Kabupaten Tapanuli Selatan: 79 korban meninggal dunia

- Kota Sibolga: 74 korban meninggal dunia

- Kabupaten Humbang Hasundutan: 8 korban meninggal dunia

- Kota Padangsidimpuan: 1 korban meninggal dunia

- Kabupaten Pakpak Bharat: 2 korban meninggal dunia

- Kota Medan: 7 korban meninggal dunia

- Kabupaten Langkat: 11 korban meninggal dunia

- Kabupaten Deliserdang: 16 korban meninggal dunia

- Kabupaten Nias: 1 korban meninggal dunia

- Kerusakan infrastruktur: ribuan rumah rusak berat hingga ringan, 32 fasilitas pendidikan rusak, 29 jembatan hancur.

Korban Jiwa di Aceh dan Sumatera Barat

Bencana banjir bandang dan longsor juga terjadi di Aceh dan Sumatera Barat (Sumbar), yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan hilang.

Hingga Selasa (2/12/2025), di Aceh sebanyak 218 orang meninggal dunia dan 227 orang masih hilang. Sedangkan di Sumatera Barat sebanyak 193 orang meninggal dunia dan 117 orang hilang. 

Sehingga total korban meninggal dunia yang sudah ditemukan di tiga provinsi mencapai 712 jiwa dan 507 orang masih dalam pencarian.

Pemerintah pusat melalui BNPB mempercepat evakuasi dan distribusi logistik, meski akses ke daerah terisolir masih menjadi tantangan utama akibat hujan deras yang diprediksi berlanjut hingga akhir Desember.

Jumlah warga terdampak langsung: 3,3 juta orang

BNPB melaporkan hingga Selasa (2/12/2025) sore ini sebanyak 1,1 juta warga mengungsi akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lebih dari 3 juta orang terdampak.

Rincian pengungsi di tiga provinsi:

- Aceh: 449.600 orang di 18 kabupaten/kota

- Sumatera Barat: 137.400 orang di 15 kabupaten/kota

- Sumatera Utara: 527.300 orang di 17 kabupaten/kota

Data BNPB terbaru:

- Korban meninggal dunia: 712 orang

- Korban hilang: 507 orang

- Korban terluka: 2.564 orang

- Jumlah terdampak: 3,3 juta orang

- Korban mengungsi: 1,1 juta orang

Kerusakan rumah di tiga provinsi:

- Rusak berat: 3.600 rumah

- Rusak sedang: 2.100 rumah

- Rusak ringan: 3.700 rumah

Fasilitas rusak:

- Fasilitas pendidikan: 323 unit

- Jembatan: 299 unit

Rincian korban meninggal dunia per provinsi:

- Aceh: 218 orang meninggal, 227 hilang

- Sumatera Barat: 193 orang meninggal, 117 hilang

- Sumatera Utara: 301 orang meninggal, 163 hilang

Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp68,6 triliun

Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp68,6 triliun, lebih besar dari penerimaan sektor tambang menurut Center of Economic and Law Studies (Celios).

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan evakuasi cepat, distribusi logistik, perlindungan pengungsi, dan pemulihan infrastruktur.

Kementerian PUPR menginstruksikan balai wilayah untuk normalisasi jalan, sementara Kementerian ESDM mengecek pasokan listrik dan BBM di daerah terisolir.

PLN dan PDAM telah menyebar personel untuk memulihkan listrik dan air, meski beberapa daerah masih gelap gulita.

Pemerintah juga menyiapkan hunian sementara sambil memulai rehabilitasi dan rekonstruksi, dengan apresiasi khusus untuk relawan yang turun langsung.

Status tanggap darurat telah ditetapkan di ketiga provinsi: Aceh hingga 11 Desember, Sumbar hingga 8 Desember, dan Sumut secara bertahap. 

Desakan dari berbagai pihak, termasuk legislator dan aktivis, agar bencana ini dinaikkan menjadi status nasional untuk akses dana lebih luas.

Mendagri Jelaskan Penyaluran Bantuan Pangan bagi Daerah Bencana

Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menjelaskan tata cara penyaluran bantuan pangan, khususnya beras Bulog, bagi daerah yang terdampak bencana.

Ia menegaskan bahwa stok beras berada dalam kondisi aman dan dapat segera disalurkan melalui prosedur yang telah disederhanakan.

“Bulog itu memiliki mekanisme, tadi saya sudah umumkan, dan saya sudah komunikasi dengan Kepala Badan Pangan Pak Amran [yang juga merupakan] Mentan, dan juga dengan Dirut Bulog Pak Rizal,” ujar Mendagri dalam konferensi pers, Senin (1/12/2025).

Mendagri mengatakan, pemerintah menerapkan tiga skema dalam penyaluran beras Bulog, yaitu bantuan pangan berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) atau operasi pasar, serta bantuan khusus untuk penanganan bencana. Khusus skema terakhir, beras dapat segera disalurkan begitu ada permintaan resmi dari kepala daerah.

Ia menegaskan, proses pengajuan bantuan sangat sederhana. Kepala daerah cukup mengirimkan surat permohonan dalam bentuk soft copy kepada Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas). Setelah menerima permohonan tersebut, Bapanas akan meneruskan persetujuan kepada Bulog agar bantuan dapat segera dikirim sesuai kebutuhan daerah.

“Contoh kemarin Lhokseumawe membutuhkan 100 ton dia, oke dia (Wali Kota Lhokseumawe) buat surat soft copy-nya saja, dikirim ke saya, kepada Mentan, Kepala Badan Pangan. Setelah itu, Badan Pangan, Mentan, menyetujui enggak usah lama-lama beliau langsung forward kepada Dirut Bulog,” jelasnya.

Tito juga menegaskan bahwa stok beras nasional berada pada tingkat yang aman. Ia mencontohkan, di Lhokseumawe saja tersedia 28 ribu ton beras Bulog, jumlah yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, menanggapi kondisi di Sibolga, Mendagri menjelaskan bahwa sebagian warga sempat mendatangi gudang Bulog karena khawatir terhadap ketersediaan logistik dan akses wilayah yang sebelumnya terhambat. Ia menyebut bahwa situasi serupa pernah terjadi di Palu ketika daerah tersebut terisolasi akibat bencana.

“Kita tahulah bahwa terjadi panic buying, kemudian juga kesulitan apalagi kalau daerah itu terisolasi. Kita pernah mengalami dulu di Palu hari ketiga terjadi penjarahan karena semua akses tertutup,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah kini mendistribusikan logistik secara proaktif ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau dengan memanfaatkan berbagai jalur yang tersedia. Ia juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat bahwa seluruh penyaluran bantuan dilakukan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan agar tepat sasaran.

Terakhir, Mendagri menyampaikan perkembangan mengenai penyediaan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana. Ia menjelaskan, pendataan terhadap rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat masih berlangsung.

Untuk sementara, warga masih menempati berbagai lokasi pengungsian seperti masjid, gedung pemerintah, tenda darurat, atau kembali ke rumah masing-masing yang masih memungkinkan untuk dihuni.

(*/Tribun-medan.com)

Baca juga: Mayat Pria Lansia di Persawahan Tanjung Gusta, Diduga Korban Banjir, Ini Identitasnya'

Baca juga: Warga Korban Banjir Memprihatinkan, DPRD Nilai Pemko Medan Tak Siap Hadapi Banjir

Baca juga: Bencana Banjir di Sumatera Kerusakan Ekologis, dr Tifa Sebut Akibat Keserakahan Rezim Jokowi

Baca juga: SANTUNAN untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatera: Kematian Rp15 Juta dan Luka Berat Rp5 Juta

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved