Banjir dan Longsor di Sumatera
Bencana Banjir di Sumatera Kerusakan Ekologis, dr Tifa Sebut Akibat Keserakahan Rezim Jokowi
Jokowi katanya mengumbar soal investasi dan pembangunan tanpa memikirkan dampak buruk terhadap lingkungan.
TRIBUN-MEDAN.com - Dokter Tifa menyinggung kebijakan pembangunan pemerintahan Era Presiden RI, Joko Widodo yang menurutnya mengabaikan keseimbangan lingkungan terkait adanya bencana banji dan longsor di Pulau Sumatera.
Banjir bandang hingga tanah longsor yang terjadi di Pulau Sumatera, dari Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat membawa duka.
Hingga Senin (1/12/2025) pukul 17.00 WIB, Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB) mencatat sedikitnya 604 orang tewas.
BNPB menyebut korban meninggal tersebar di tiga provinsi, yakni Sumatera Utara sebanyak 283 jiwa, Sumatera Barat sebanyak 165 jiwa, dan Aceh sebanyak 156 jiwa.
Baca juga: Politisi PDIP Anggap Jokowi Cuci Tangan soal Bandara IMIP Morowali, Minta Pemerintah Investigasi
Selain ratusan korban tewas, ribuan warga masih dinyatakan hilang serta mereka yang luka-luka menunjukkan bahwa dampak bencana masih jauh dari selesai.
Peristiwa memilukan itu disoroti banyak pihak.
Tak terkecuali Akademisi, Tifauzia Tyassuma atau akrab disapa Dokter Tifa.
Dirinya menyoroti penyebab banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan menyebut bencana itu sebagai akumulasi kerusakan lingkungan dalam satu dekade terakhir.
Hal tersebut ia sampaikan dalam sebuah renungan yang diunggahnya lewat akun media sosialnya, @DokterTifa pada Senin (1/12/2025).
Baca juga: Prabowo Minta Guru Tegas Hadapi Murid Kurang Ajar: Hei Orang Tua, Jangan-Jangan Anakmu yang Nakal
Dalam postingannya berjudul 'BANJIR SUMATERA: KETIKA ALAM MENJADI SAKSI BISU KEJAHATAN 10 TAHUN' itu, Dokter Tifa menilai bencana alam tidak dapat dilihat semata sebagai fenomena cuaca.
Akan tetapi, sebagai dampak dari kerusakan ekologis yang berlangsung bertahun-tahun.
Ia mengibaratkan kondisi lingkungan di Sumatera sebagai 'tubuh' yang mengalami pembengkakan dan kerusakan organ akibat beban yang dipaksakan tanpa pemulihan.
"Sebagai dokter, aku memandang Sumatera hari ini seperti pasien yang tubuhnya membiru dan membengkak, karena dipaksa menanggung beban bertahun-tahun. Bagiku, banjir yang terjadi bukan sekadar banjir," tulis Dokter Tifa.
"Ini adalah Edema Ekologis, pembengkakan yang lahir dari kebijakan rezim 10 tahun, yang memukul jantung pulau ini dan merusak ginjalnya tanpa pernah merasa bersalah." tegasnya.
Baca juga: Terpisah dari Istri, Lansia 60 Tahun Nekat Terjang Banjir dari Sibolga Menuju Pandan Pakai Tali
Ketika air naik, menghasilkan kolam-kolam raksasa yang membenamkan desa demi desa, menenggelamkan sebagian penduduknya, dirinya melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar genangan.
| Lebaran di Tenda Pengungsian, Hati Irma Perih Dengar Ratapan Sang Anak, 'Mak Sampai Kapan di Sini?' |
|
|---|
| Prabowo Klaim Tak Ada Lagi Pengungsi di Tenda, Irma Menangis Ditanya Anaknya 'Sampai Kapan di Sini?' |
|
|---|
| Mendagri Pastikan Total 5 Desa Hilang Akibat Bencana Sumatera, 2 di Sumut dan 3 di Aceh |
|
|---|
| Hashim Sebut Presiden Prabowo Buka Ruang Pengajuan Keberatan bagi 28 Perusahaan yang Izinnya Dicabut |
|
|---|
| Bos Danantara Rosan Pastikan Perminas Kelola Tambang Emas Martabe, Perusahaan Lain Segera Dibahas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Dr-tifa-soal-banjir-bandang.jpg)