Muktamar Ke-35 NU: Mengurai Peta Poros dan Menanti Fatwa Langit
NU tidak boleh hanya kaya akan massa, tetapi miskin secara finansial sehingga mudah didikte oleh kepentingan luar
Menariknya, poros ini secara tegas menyandarkan harapan pada KH Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam. Kembalinya Kiai Said ke panggung utama menunjukkan bahwa pengaruh intelektual dan kharisma mantan Ketua Umum PBNU dua periode ini masih sangat kuat di akar rumput.
Titik Sentral: Kiai Sepuh dan “Fatwa Langit”
Namun, di atas segala hitung-hitungan suara dan manuver politik praktis, ada satu variabel yang seringkali menjadi penentu akhir namun sulit dibaca oleh logika politik sekuler: peran Kiai Sepuh. Dalam tradisi NU, kiai sepuh adalah jangkar moral.
Mereka adalah pemegang otoritas langit yang menjaga agar bahtera NU tidak karam diterjang badai ambisi kekuasaan.
Pada Muktamar 2026 nanti, peran kiai sepuh diprediksi akan jauh lebih krusial. Mengapa demikian? Karena NU sedang menghadapi tantangan polarisasi internal yang cukup tajam.
Kiai-kiai sepuh dari berbagai pesantren utama seperti Lirboyo, Ploso, Tebuireng, Sarang, hingga kiai-kiai kharismatik dari luar Jawa, memegang peran sebagai “pemberi restu” yang melampaui sekat-sekat faksi.
Pesan yang akan dibawa oleh kiai sepuh dalam Muktamar nanti diprediksi akan menitikberatkan pada tiga hal utama.
Pertama, kembalinya marwah Syuriyah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, ada kesan bahwa Tanfidziyah (badan eksekutif) bergerak terlalu jauh tanpa kendali penuh dari Syuriyah (badan legislatif/ulama).
Kiai sepuh kemungkinan besar akan memberikan peringatan keras agar NU tidak dikelola seperti perusahaan atau partai politik, melainkan tetap sebagai jam'iyyah diniyyah (organisasi keagamaan).
Kedua, penjagaan terhadap Khittah 1926. Kiai sepuh seringkali menjadi pihak yang paling gelisah ketika NU ditarik-tarik ke dalam pusaran politik kekuasaan yang pragmatis. Pesan mereka biasanya sunyi namun tajam: bahwa NU harus berdiri di atas semua golongan.
Kepentingan politik jangka pendek tidak boleh mengorbankan keutuhan umat. Di tengah munculnya poros-poros yang beririsan dengan kementerian maupun partai, suara kiai sepuh akan menjadi pengingat bahwa NU adalah pelayan umat, bukan pelayan kekuasaan.
Ketiga, moralitas kepemimpinan. Kiai sepuh tidak hanya melihat kapasitas intelektual seorang calon, tetapi juga riyadhah (latihan spiritual) dan akhlaknya. Dalam tradisi pesantren, pemimpin yang ambisius justru seringkali dihindari.
Di sinilah letak uniknya Muktamar NU: seorang calon yang memiliki dukungan suara besar secara administratif, bisa saja tumbang hanya karena satu dawuh (perkataan) dari seorang kiai sepuh yang menilai calon tersebut tidak memiliki “sirr” atau kecocokan spiritual untuk memimpin NU.
AHWA: Mekanisme Musyawarah Mufakat
Penerapan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam adalah manifestasi nyata dari penghormatan terhadap kiai sepuh. Di Muktamar 2026, fungsi AHWA akan menjadi filter utama.
| Haji, Al-Ghazali dan Keganjilan Kita |
|
|---|
| UINSU Medan Pastikan Tidak Ada Kenaikan UKT 2026 |
|
|---|
| UINSU Medan Pastikan Tidak Ada Kenaikan UKT di 2026, Berikut Besaran Tiap Golongannya |
|
|---|
| Momentum Perenungan bagi Warga Binaan, Prof Muzakkir Sampaikan Empat Pesan |
|
|---|
| Tasawuf Ramadhan: Menjaring Hening, Menyapu Jelaga Hati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Dr-Abrar-M-Dawud-Faza-MA.jpg)