Opini Online
Mencoba, Mengevaluasi, dan Memperbaiki: Seni Memimpin di Era Digital
Di ruang rapat birokrasi dan korporasi Indonesia, satu kalimat masih sering terdengar: “Kita tunggu kajian lengkap dulu.”
Di ruang rapat birokrasi dan korporasi Indonesia, satu kalimat masih sering terdengar: “Kita tunggu kajian lengkap dulu.”
Kalimat itu sah. Bahkan bijak.
Namun di era digital, ketika perubahan bergerak lebih cepat daripada siklus rapat, kalimat tersebut kerap menjadi alasan untuk diam.
Padahal, dunia digital tidak memberi kemewahan waktu. Ia menuntut keputusan cepat, meski belum sempurna.
Di sinilah muncul filosofi kepemimpinan digital yang kian relevan: coba, evaluasi, dan perbaiki.
Sebuah pendekatan yang sederhana secara konsep, namun menantang dalam praktik, terutama bagi pemimpin yang dibesarkan oleh budaya prosedural dan kepastian absolut.
Dari Kepastian Menuju Keberanian Mencoba
Pemimpin konvensional dibentuk untuk meminimalkan risiko.
Keputusan dianggap baik bila seluruh variabel telah dihitung, seluruh dampak telah dipetakan, dan seluruh risiko telah dikendalikan.
Masalahnya, di era digital, variabel justru terus berubah. Data bertambah setiap detik, perilaku publik bergerak dinamis, dan teknologi berkembang sebelum sempat disosialisasikan.
Riset mutakhir menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif dalam situasi penuh turbulensi tidak lagi bertumpu pada kepastian awal, melainkan pada kemampuan beradaptasi dan belajar secara cepat.
Studi Yukl dan koleganya (2023) menegaskan bahwa pemimpin yang berhasil di lingkungan tidak pasti adalah mereka yang berani melakukan trial, membaca umpan balik, lalu menyesuaikan keputusan secara berulang.
Kepemimpinan, dengan demikian, bukan soal memberi jawaban final, melainkan mengelola proses belajar organisasi.
Pemimpin digital memahami satu hal mendasar: menunggu sempurna sama dengan tertinggal.
| Cerita Refleksi Sr Anna Wiwiek dari India: Berdiri dan Menatap Alam di Tengah Bencana di Sumatera |
|
|---|
| Judol: Yang Kalah Kita Semua |
|
|---|
| Inflasi Sumatera Utara: Alarm yang Tak Boleh Diabaikan |
|
|---|
| 4. BOLEHKAH POLISI MENOLAK LAPORAN? |
|
|---|
| Denyut Digital di Jantung Sumatera: Mendorong UMKM Kreatif Medan sebagai Mesin Baru Ekonomi Urban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Catatan-Aryanto-Tinambunan-soal-Gambir.jpg)