Dari Palungan ke Rumah Bersama: Natal, Solidaritas, dan Pertobatan Ekologis

Krisis ekologis dan penderitaan manusia tidak dapat dipisahkan. Banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera bukan sekadar fenomena alam.

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/DOK PRIBADI
Sr. M. Tarcisia Sembiring FSE 

Oleh: Sr. M. Tarcisia Sembiring FSE

Santo Fransiskus Asisi memandang seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudari, lahir dari satu kasih Pencipta yang sama.

Dalam terang Natal, misteri Inkarnasi memperdalam kesadaran ini: Sang Sabda menjadi daging dan tinggal di tengah ciptaan, bukan di luar atau di atasnya.

Kelahiran Kristus di palungan menegaskan solidaritas Allah dengan dunia yang rapuh baik manusia maupun alam semesta.

Krisis ekologis dan penderitaan manusia tidak dapat dipisahkan.

Banjir dan tanah longsor yang melanda Sumut, Sumbar, dan Aceh bukan sekadar fenomena alam, melainkan cermin relasi yang terluka antara manusia dan rumah bersama. 

Ketika alam dieksploitasi tanpa tanggung jawab, yang paling terdampak adalah mereka yang paling rentan sebuah kenyataan yang secara teologis menuntut pertobatan ekologis.

Kemiskinan Kristus yang lahir di palungan bukanlah kekurangan, melainkan sikap hidup yang selaras dengan ciptaan. Kesederhanaan menjadi jalan keselamatan, bukan hanya bagi jiwa, tetapi juga bagi bumi.

Natal mengajak umat beriman untuk meneladani Kristus yang miskin dan Santo Fransiskus yang bersaudara dengan alam, dengan membangun gaya hidup yang berkelanjutan, adil, dan penuh hormat terhadap kehidupan.

Spiritualitas ekologis sejati selalu bermuara pada tindakan konkret.

Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. 

Oleh karena itu, refleksi Natal menantang Gereja dan komunitas beriman untuk menghadirkan solidaritas nyata bagi para korban bencana: melalui kehadiran, dan upaya pemulihan yang berorientasi pada keadilan ekologis.

Natal, menjadi panggilan untuk memulihkan relasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan ciptaan.

Terang yang lahir di palungan menerangi jalan pertobatan ekologis, agar rumah bersama kembali menjadi ruang kehidupan yang bermartabat bagi semua makhluk. 

Natal, dengan demikian, bukan sekadar perayaan liturgis, melainkan panggilan teologis untuk menghadirkan kasih yang bertanggung jawab kasih yang disertai refleksi kritis, tindakan nyata, dan kesediaan untuk membangun kembali kehidupan secara berkelanjutan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved