Ramadan 2026
Tasawuf Ramadhan: Menjaring Hening, Menyapu Jelaga Hati
Bulan suci ini adalah upaya sadar untuk membersihkan cermin batin yang telah kusam oleh jelaga kepentingan duniawi.
Dr. H. Abrar M. Dawud Faza, MA (Wakil Rektor II UIN SU / Katib PWNU Sumut)
Ramadhan selalu datang dengan keriuhan yang serupa dari tahun ke tahun: pasar kaget yang sesak, aroma tajil di sudut jalan, hingga saf-saf tarawih yang bergegas.
Namun di balik ritus kolosal yang bersifat lahiriah itu, tasawuf—sumur spiritualitas Islam—menawarkan jalan setapak yang berbeda.
Ia tak sekadar mengajak kita menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah undangan terbuka untuk "pulang" ke ruang hening di dalam diri sendiri.
Bulan suci ini adalah upaya sadar untuk membersihkan cermin batin yang telah kusam oleh jelaga kepentingan duniawi.
Bagi kaum sufi, puasa adalah latihan asketik untuk melampaui dominasi tubuh fisik.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin dengan tegas memilah puasa dalam tiga lapis: puasa orang awam, puasa kaum istimewa (khusus), dan puncaknya adalah puasa khusus al-khusus.
Lapisan tertinggi ini bukan lagi soal kerongkongan yang kering, melainkan puasa hati dari segala pikiran rendah dan keterikatan selain kepada Sang Pencipta.
Di titik inilah, puasa bertransformasi menjadi sebuah pernyataan cinta, bukan sekadar kalkulasi pahala atau ketakutan akan dosa. Rabiah al-Adawiyah, sang zahid legendaris dari Basra, pernah berujar lirih: "Aku menyembah-Mu bukan karena takut neraka atau mengharap surga, tapi karena Engkau layak disembah." Dalam tarikan napas yang sama, Ramadhan seharusnya menjadi manifestasi cinta itu—sebuah bentuk kesetiaan batin yang murni.
Dunia modern adalah mesin kebisingan yang tak pernah tidur. Kita sering kali kehilangan arah di tengah ambisi yang memburu dan rutinitas yang mekanis.
Ramadhan hadir sebagai interupsi esensial terhadap hiruk-pikuk tersebut. Ia menawarkan jeda yang jarang kita miliki; sebuah momentum untuk bertanya kembali tentang apa yang sebenarnya kita cari di tengah fana ini.
Menariknya, dalam kekosongan perut, kepekaan ruhani justru meruncing. Jalaluddin Rumi dalam senandungnya pernah berkata: "Ada kelezatan tersembunyi dalam kekosongan perut.
Ketika kerongkongan tersumbat makanan, cahaya ruh sulit masuk." Puasa, bagi Rumi, adalah cara manusia mematikan sementara sifat hewani agar percikan ilahiah dalam diri dapat berpijar lebih terang.
Namun, realitas sering kali menunjukkan kontradiksi yang tajam. Kita kerap terjebak pada kemeriahan simbolik dan konsumerisme yang berkedok religi. Hidangan berbuka yang melimpah ruah sering kali justru menjadi ajang balas dendam atas lapar siang hari.
Di sini, tasawuf mengingatkan kita bahwa tanpa kesederhanaan dan kejujuran batin, ibadah hanyalah menjadi teater kosong yang kehilangan nyawanya.
| Selama Ramadan, Polrestabes Medan Catat Angka Kriminal Jalanan Turun 14 Persen |
|
|---|
| Sejarah Masjid Al-Ghaudiyah Medan yang Namanya Diambil dari Perkampungan di Negara Iran |
|
|---|
| Jadwal Imsakiyah 28 Ramadan 2026 Kota Medan: Waktu Sahur dan Buka Puasa 18 Maret 2026 |
|
|---|
| Jadwal Sidang Isbat Menetapkan 1 Syawal Idul Fitri 1447 H, Disiarkan Langsung Kementerian Agama |
|
|---|
| Kisah Hidup Eko Sopianto, Tobat dari Dunia Hitam dan Kini Miliki Sekolah Gratis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Wakil-Rektor-II-UIN-Sumatera-Utara-Dr-H-Abrar-M-Dawud-Faza-MA.jpg)