Citizen Reporter

Perspektif Lain Memahami Iran yang Sering Dilupakan Amerika

Dalam perspektif Garver, Iran dan China tidak dapat dipahami hanya sebagai negara yang bereaksi terhadap kalkulasi kekuasaan.

ISTIMEWA
Dr Jannus TH Siahaan 

Oleh: Jannus TH Siahaan

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran
 
John W. Garver; Profesor Hubungan Internasional di Sam Nunn School of International Affairs, Georgia Institute of Technology, melalui karya seminalnya 20 tahun lalu, “China and Iran: Ancient Partners in a Post-Imperial World”, sudah mengingatkan dunia, terutama Barat, pada satu kesalahan mendasar dalam cara membaca politik global, yakni kecenderungan dunia Barat melihat negara-negara non-Barat semata sebagai aktor geopolitik modern, terlepas dari akar peradaban panjang yang membentuk cara mereka berpikir, bertindak, dan merespons tekanan eksternal. 
 
Dalam perspektif Garver, Iran dan China tidak dapat dipahami hanya sebagai negara yang bereaksi terhadap kalkulasi kekuasaan sebagaimana dipahami hari ini, tetapi sebagai peradaban tua yang membawa memori sejarah ribuan tahun ke belakang ke dalam setiap keputusan strategisnya.
 
Garver yang mengkhususkan diri dalam kajian isu-isu luar negeri Tiongkok dan Asia Timur itu menegaskan bahwa baik Iran maupun China pernah menjadi pusat peradaban dunia pada zamannya. Persia dan Tiongkok bukan hanya wilayah geografis, tetapi sistem peradaban yang telah mengembangkan administrasi pemerintahan, hukum, filsafat, ekonomi, teknologi, dan kebudayaan pada tingkat yang setara, bahkan dalam banyak hal justru lebih maju, dibandingkan Eropa Barat pada periode yang sama. 

Kesadaran akan masa lalu inilah yang membedakan Iran dan China dari banyak negara lain di dunia saat ini.
 
Namun, sebagaimana telah diketahui, kejayaan kedua peradaban ini pun kemudian terguncang oleh gelombang kolonialisme, imperialisme, dan hegemoni Barat. Iran mengalami intervensi, langsung maupun tidak langsung, dari kekuatan Eropa dan Amerika sejak abad ke-19, sementara China melewati apa yang dikenal sebagai “abad penghinaan” sejak perang candu pecah. Bagi Garver, pengalaman ini bukan sekadar fase sejarah, tapi trauma kolektif yang terus hidup dan membentuk sikap politik kontemporer kedua negara.
 
Kesadaran pasca-imperial inilah yang menjelaskan mengapa Iran dan China begitu sensitif terhadap tekanan eksternal. 

Kedua negara tidak sekadar membaca kebijakan Barat sebagai kebijakan, tetapi sebagai bagian dari pola historis penundukan yang justru ingin mereka akhiri. 

Dengan kata lain, dari sudut pandang ini, resistensi Iran dan China bukanlah sebuah anomali, tapi respons rasional dari peradaban yang menolak kembali diperlakukan sebagai objek sejarah oleh hegemon dari Barat.
 
Karena itu, dalam dua dekade terakhir, dinamika politik Iran, termasuk beberapa gelombang demonstrasi besar, perlu dibaca dalam kerangka besar ini. 

Tanpa pemahaman peradaban, Barat kerap salah menafsirkan respons negara Iran, seolah-olah semata-mata lahir dari ketakutan atas hilangnya kekuasaan, bukan dari refleksi historis yang jauh lebih dalam dan mendarah daging di kedua negara.
 
Dengan pemahaman strategis-historis Garver tersebut, tak pelak penting untuk menempatkan demonstrasi besar di Iran belum lama ini dalam perspektif yang lebih komprehensif. 

Protes sosial yang berulang kali terjadi dalam 20 tahun terakhir jelas mencerminkan problem internal yang serius, yakni tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, ketimpangan sosial, aspirasi generasi muda yang makin progresif, serta tuntutan kebebasan sipil yang semakin luas. Semua ini adalah realitas yang tidak bisa dikesampingkan atau disederhanakan.
 
Namun, Iran bukanlah negara yang membaca demonstrasi hanya sebagai urusan domestik. Dalam kesadaran politik Iran, setiap gejolak internal selalu berpotensi menjadi pintu masuk intervensi asing. 

Sejarah telah mengajarkan Iran bahwa ketidakstabilan domestik sering dimanfaatkan oleh kekuatan eksternal untuk mengganti rezim yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka. Dari pengalaman itu, lahirlah naluri bertahan yang sangat kuat.
 
Perbandingan dengan China pada 1989 menjadi sangat relevan. Peristiwa Tiananmen Square sering diposisikan Barat sebagai simbol represi negara terhadap rakyatnya. Namun, dari sudut pandang Beijing, momen tersebut adalah titik krisis ketika negara merasa eksistensinya terancam. Elite China saat itu percaya bahwa runtuhnya negara akan membuka kembali pintu dominasi asing atas peradaban yang telah mereka bangun selama ribuan tahun.
 
Iran bergerak dalam logika yang sejatinya mirip. Ketika demonstrasi membesar dan mendapat dukungan naratif dari Barat, negara membaca situasi tersebut bukan sekadar sebagai kritik internal, tetapi sebagai bagian dari tekanan geopolitik yang lebih keras dari Barat. Inilah sebabnya mengapa respons negara sering kali keras dan defensif. Bukan karena Iran tidak memahami penderitaan rakyatnya, tetapi karena negara melihat risiko yang lebih besar, yakni runtuhnya kedaulatan dan terbukanya jalan perubahan rezim yang direkayasa dari luar.
 
Dalam perspektif ini, sikap pemerintah Iran tidak bisa dipahami secara hitam-putih, tapi berada dalam dilema klasik peradaban tua antara membuka ruang perubahan dan mempertaruhkan stabilitas eksistensial negara. 

Karena itu, dalam hemat saya, Garver sangat membantu kita memahami bahwa pilihan yang diambil sering kali didorong oleh ingatan sejarah, bukan semata-mata oleh kepentingan kekuasaan jangka pendek.
 
Dalam analisis Garver, Amerika Serikat menempati posisi unik sebagai pewaris utama dominasi Barat modern. Kekuatannya bukan hanya di sektor militer, tetapi juga ekonomi, finansial, dan naratif. 

Haus kuasa Amerika tidak selalu tampil dalam bentuk agresi terbuka, tapi sering hadir melalui sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, perang informasi, dan dukungan selektif terhadap aktor domestik di negara yang ditarget.
 
Iran adalah salah satu negara yang paling konsisten menolak pola ini. Penolakannya terhadap dominasi Amerika dan sikap kerasnya terhadap Israel menjadikannya target tekanan secara berlapis. 
Dalam konteks ini, demonstrasi internal mudah dipersepsikan sebagai peluang strategis untuk melemahkan negara dari dalam. 

Apakah semua gerakan protes direkayasa oleh Barat? Tentu tidak. Namun, apakah Barat dan Israel berusaha memanfaatkan momentum tersebut? Dalam pandangan Teheran, jawabannya nyaris pasti iya.
 
Garver menempatkan kecurigaan Iran ini sebagai sesuatu yang dapat dimengerti secara historis. Iran telah berkali-kali mengalami intervensi dengan dalih moral dan keamanan, tetapi berujung pada kerugian besar bagi kedaulatan nasionalnya. Karena itu, setiap tekanan eksternal, betapapun dibungkus dengan bahasa demokrasi dan HAM, cenderung dibaca sebagai ancaman eksistensial.
 
Masalahnya, pendekatan Amerika justru sering kontraproduktif. Alih-alih melemahkan negara, tekanan eksternal memperkuat narasi internal bahwa Iran sedang diserang oleh kekuatan asing. Faksi-faksi keras di Iran akhirnya justru mendapatkan legitimasi, sementara ruang dialog dan reformasi internal semakin menyempit. Dalam jangka panjang, haus kuasa dari Israel dan Amerika ini justru memperpanjang konflik.
 
Relasi Iran–China, sebagaimana digambarkan Garver, justru menawarkan model alternatif dalam hubungan internasional. Hubungan ini tidak dibangun di atas kesamaan ideologi atau aliansi militer formal, tapi di atas pengakuan terhadap sejarah dan martabat peradaban masing-masing. China tidak datang ke Iran sebagai pengajar atau hakim moral, tapi sebagai mitra yang memahami sensitivitas negara berperadaban tua.
 
Pendekatan ini membuat hubungan kedua negara relatif stabil. China berbicara dengan Iran dalam bahasa kesetaraan dan kepentingan bersama. China tidak menuntut perubahan politik internal sebagai prasyarat kerja sama. Bagi Iran, ini adalah bentuk penghormatan yang jarang mereka temui dalam relasi dengan Barat.
 
Inilah sebabnya mengapa, ketika negara-negara Barat terus mengalami kebuntuan dalam berurusan dengan Iran, China justru mampu menjaga hubungan yang relatif mulus. Kerja sama energi, perdagangan, dan infrastruktur berjalan tanpa syarat ideologis yang berlebihan. Iran diposisikan sebagai subjek, bukan objek.
 
Pesan utama dari analisis Garver menjadi semakin jelas bahwa berbicara dengan Iran dan China menuntut pemahaman peradaban terlebih dahulu. Menghormati peradaban berarti mengakui bahwa kedua negara ini memiliki sejarah, identitas, dan kepentingan yang sah. Dialog tidak mungkin terjadi jika Barat terus memosisikan diri sebagai penentu tunggal arah dunia.
 
Selama Amerika masih memandang dunia sebagai papan catur yang harus dikendalikan, konflik dengan negara-negara peradaban tua akan terus berulang. Iran akan tetap berdiri, sebagaimana China telah membuktikannya. 

Dunia multipolar menuntut hubungan antarperadaban yang setara, saling menghormati, dan berbasis kepentingan bersama. Tanpa perubahan cara pandang ini, sikap haus kuasa Amerika dan Israel hanya akan terus melahirkan resistensi, bukannya stabilitas.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved