Momentum Perenungan bagi Warga Binaan, Prof Muzakkir Sampaikan Empat Pesan
Kegiatan bertema ‘Madrasah Jiwa’ tersebut merupakan bagian dari rangkaian Safari Ramadan UINSU yang digelar di lingkungan lembaga pemasyarakatan
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bulan Ramadan tidak hanya menjadi ruang ibadah bagi masyarakat di luar, tetapi juga menjadi momentum perenungan bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Medan.
Dalam kegiatan Safari Ramadan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), pesan tentang taubat, syukur, dan perubahan diri disampaikan kepada para warga binaan.
Dalam tausiah yang disampaikan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Lembaga Pengembangan UINSU, Prof Dr Muzakkir, MAg, terdapat empat pesan utama yang menjadi pengingat tentang makna ketakwaan di bulan suci Ramadan.
Kegiatan bertema ‘Madrasah Jiwa’ tersebut merupakan bagian dari rangkaian Safari Ramadan UINSU yang digelar di lingkungan lembaga pemasyarakatan di Kota Medan.
Dalam ceramahnya, Prof Muzakkir menegaskan bahwa manusia paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa. Menurutnya, ketakwaan memiliki beberapa ciri utama yang dapat menjadi pedoman hidup.
Pesan pertama adalah Al-Khaufu minal Jalil, yakni rasa takut kepada Allah. Ia menjelaskan, orang yang bertakwa selalu menyadari bahwa setiap perbuatannya dilihat oleh Allah, meski pun tidak ada manusia lain yang mengawasi.
Baca juga: Kalapas Sebut Penyediaan Makanan di Lapas Tanjungbalai Sudah Layak
“Ketika seseorang takut kepada Allah, ia akan meninggalkan dosa dan berlari menuju kebaikan,” ujarnya.
Pesan kedua adalah Wal ‘Amalu bit-Tanzil, yakni menjalankan amal sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Ketakwaan, kata dia, tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan ketiga adalah Ridho bil Qolil, yakni bersyukur atas nikmat yang sedikit. Ia menekankan bahwa orang yang bersyukur akan tetap merasa cukup dalam berbagai keadaan, baik saat lapang mau pun sempit.
Ada pun pesan keempat adalah Wal Isti’dadu liyaumir Rohil, yakni mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat dengan memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri.
Selain itu, Prof Muzakkir juga mengingatkan pentingnya taubat di bulan Ramadan. Ia menjelaskan ada tiga syarat agar taubat diterima Allah SWT, yaitu penyesalan yang tulus atas dosa masa lalu (an-nadamah), segera meninggalkan perbuatan dosa (tarkudz-dzambi fil hal), serta tekad kuat untuk tidak mengulanginya (al-‘azmu).
Ia mengajak warga binaan menjadikan masa di dalam lapas sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan menata masa depan.
“Masa lalu tidak harus menjadi penghalang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selama seseorang memiliki rasa takut kepada Allah, bersyukur, beramal saleh, dan mempersiapkan bekal akhirat, maka pintu kemuliaan tetap terbuka,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Safari Ramadan UINSU tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi warga binaan untuk menjalani proses perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik.
| UINSU Medan Pastikan Tidak Ada Kenaikan UKT 2026 |
|
|---|
| Momentum Ramadan, Kisah Warga Binaan Lapas Tebing Tinggi Menghafal Al-Quran |
|
|---|
| Warga Binaan Lapas Kelas III Pangururan Tewas Dianiaya, Seorang Petugas Lapas Jadi Tersangka |
|
|---|
| Kerja Sama UINSU dan Tribun Medan, Rektor: Kolaborasi dengan Media Penting demi Kemajuan Kampus |
|
|---|
| Keluarga Warga Binaan Ungkap Dugaan Pungli di Lapas Tanjungbalai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SAFARI-RAMADAN-Warga-binaan-Lapas-Kelas-I-Medan.jpg)