Banjir dan Longsor di Tapteng

Jeritan Sejumlah Petani di Tukka Tapteng, Puluhan Hektare Sawah Siap Panen Habis Diterjang Banjir 

Di kecamatan ini, ada ratusan hektare sawah ada puluhan kebun buah-buahan mulai dari durian, rambutan, kelapa, dan lain-lain. 

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Penampakan puluhan hektare sawah yang terendam banjir  dan lumpur di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng, Minggu (7/12/2025). Padahal padinya sudah menguning dan siap panen. 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Kecamatan Tukka Kabupaten Tampan Tengah satu diantara kecamatan yang subur di Kabupaten Tapanuli Tengah. 

Buah-buahan, sayur-sayuran, ikan sungai, padi semua bisa dihasilkan dari tanah Kecamatan Tukka ini.

Warga menyebut Tukka adalah Hidden Gemnya Kabupaten Tapanuli Tengah. 

Di kecamatan ini, ada ratusan hektare sawah ada puluhan kebun buah-buahan mulai dari durian, rambutan, kelapa, dan lain-lain. 

Air mata air dari pegunungan pun hanya didapat di kecamatan ini. 

Baca juga: Gemilang di Porkot Medan 2025, Daffa Maulana Siap Antar Sumut ke PON XXII

Baca juga: PREDIKSI Susunan Pemain Timnas U22 Indonesia, Marselino Absen, Indra Sjafri Pakai Formasi Lama

Baca juga: NasDem Desak Polisi Tangkap Pelaku Perambah Hutan Penyebab Banjir di Sumut

Namun, pasca banjir bandang yang melanda Kecamatan Tukka pada Selasa (25/11/2025) lalu, desa ini hancur lebur.

Padi-padi  yang siap panen pun gagal karena telah disapu banjir.  

Misalnya sawah milik, Juwita (32). Sambil menunjukkan lokasi sawah miliknya seluas 1 Hektare, ia bercerita hari banjir itu seharusnya mereka mulai memanen sawah.

"Satu hektare sawah kami udah jadi tinggal siap panen habis diterjang  banjir. Dari 2 hari sebelumnya sudah mau kami panen kian.

Tapi, hujan terus kami tundalah sampai ternyata bukan rejeki kami sawah kami habis disapu banjir," cerita Juwita kepada Tribun Medan, Minggu (7/12/2025). 

Menurutnya satu hektare sawah miliknya itu bisa menghasilkan Rp 5 juta untuk sekali panen. 

"Tanah kami ini (Tukka) tanah subur. Di sinilah semua beras, buah-buahan, ikan sungai, di sinilah semua. Ini banjir terparah  pertama kali terjadi, sepanjang saya tinggal di sini," jelasnya. 

Hal senada juga dirasakan oleh Mistera. Ia juga memiliki sawah seluas 1 Hektare yang siap panen.

Namun juga ludes terbawa banjir.

"Payah bilanglah, sudah enggak terpikirkan lagi. Yang penting selamat semua. Harta benda biarlah hilang," katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved