Banjir dan Longsor di Tapteng

Tangis Penyintas Banjir Tirawan Pecah, Lemang Jadi Penawar Lara Lebaran dan Bangun Huntara Mandiri

Seorang perempuan paruh baya terlihat sibuk membolak-balikkan lemang tersebut agar masak dengan sempurna.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
PENYINTAS BANJIR MEMASAK LEMANG - Tirawan Siregar, seorang penyintas banjir saat memasang lemang di huntara yang dibangun suaminya secara mandiri di Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka, Tapteng, Jumat (20/3/2026). Tirawan merupakan seorang warga yang termasuk penyintas banjir beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Kepul asap putih membumbung tinggi dari satu diantara Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun oleh penyintas banjir secara mandiri di Simpang Merah, Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah

Pantauan Tribun Medan,  dari kejauhan terlihat terlihat delapan batang bambu panjang bersandar miring di atas tungku api yang menyala dengan stabil.  

Seorang perempuan paruh baya terlihat sibuk membolak-balikkan lemang tersebut agar masak dengan sempurna.

Aroma ketan gurih dan santan yang terbakar pelan di dalam batang bambu menyeruak dan cukup mengunggah selera.

Dibalik wanginya aroma lemang, ada kepahitan yang nyata bagi penyintas banjir di Lebaran Idul Fitri kali ini.  

Saat didekati Tribun Medan, perempuan paru baya itu bernama Tirawan Siregar (57).  

Tangis Tirawan pecah saat mengenang  proses pembangunan huntara mandiri yang dibangun oleh tangan suaminya sendiri. 

Tirawan pun menceritakan, tak adanya kejelasan  dari pemerintah kapan Huntara jadi membuat sang suami berfikir keras untuk  bisa membangun rumah sementara secara mandiri untuk mereka tinggal.

Huntara mandiri yang dibangunnya tidak jauh dari posisi tempat pengungsian lamanya di Simpang Merah Kelurahan Hutanabolon-Sipange, Kecamatan Tukka Tapteng. 

Ukuran rumahnya cukup kecil bak rumah singgah warung kopi. Hanya ada tiga sekat dalam rumah itu. Dan tidak ada pintu rumahnya. Dibagian sekat tengah hanya berisi satu alas tidur yang ia dapat dari bantuan pemerintah.

Sementara di sisi  sekat kanan hanya berisi  karpet, dan menjadi tempat tidur menantu serta cucu-cucunya.  Tidak ada lemari, baju hanya digulung-gulung dengan satu ikatan kain besar dan ditumpukkan menjadi satu.

Jika siang hari, rumah ini cukup panas sebab, atap rumah ini hanya menggunakan seng bekas dari rumah lamanya yang hanyut disapu banjir pada November 2025 lalu.

Meski rumah ini hanya empat sekat memanjang tanpa pintu dan jendela, serta huntara ini dibangun dari kayu-kayu bekas banjir,  Tirawan dengan bangganya mengatakan rumah ini dibangun dari hasil tangan suaminya sendiri selama satu minggu. 


"Tahun ini saya rasa sangat sedih lah, untuk menyambut Lebaran  rumah kita tidak ada lagi. Apa-apa tidak ada, jadi menunggu bantuan kawan dan orang-oranglah," jelas Tirawan sambil menangis.

Baginya, memasak lemang ini, sebagai obat pelipur duka. Agar menyambut lebaran lebih semangat lagi. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved