Banjir dan Longsor di Tapteng

Pilu, Warga Hutanabolon 10 Hari Minum Air Banjir karena Tak Ada Air Bersih

Semua warga terlihat mencuci pakaian, cuci piring, dan mandi di air banjir yang masih melintas di jalan.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Sejumlah warga sedang mencuci pakaian dan mandi di air banjir yang  masih mengalir kecil di pinggir jalan Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka, Minggu (7/12/2025). Pasca banjir, warg kesulitan air bersih dan air mineral untuk diminum. 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Warga Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka  Kabupaten Tapanuli Tengah membutuhkan air mineral dan air bersih untuk menyambung hidup setelah bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak,Minggu (7/12/2025).  

Pantauan Tribun Medan, sepanjang datang ke kelurahan itu, mereka berteriak meminta air mineral ke relawan yang datang.

Sejak banjir datang, air bersih dan air mineral sulit didapatkan.

Air PDAM juga tak kunjung hidup hingga hari ini. 

Semua warga terlihat mencuci pakaian, cuci piring, dan mandi di air banjir yang masih melintas di jalan.

Tak jarang terlihat sebagian mereka ke area air banjir yang cukup dalam untuk menyaring air bersih. 

Baca juga: AMRIZAL HASIBUAN, Sosok Polisi Berjibaku Evakuasi Nenek dan Cucu Pakai Gedebok Pisang❗

Baca juga: PSDS Deli Serdang Tekad Bangkit Hadapi Batavia FC, Lupakan Kekalahan Perdana, Incar Poin Pertama

Baca juga: LIVE Score Hasil Liga Nusantara Hari Ini Batavia FC Vs PSDS Deli Serdang, Nusantara Vs Dejan

"Aqua, Aqua, Aqua (air mineral) adong aqua muna (ada air mineral kamu bawa)," teriak ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian di bekasan air banjir kepada setiap mobil relawan yang melintas.

Begitupun saat masuk ke Kelurahan Hutanabolon Lingkungan 3 dan 4, mereka semua berteriak untuk diberikan air mineral .

"Minta Aqua muna (Minta Air mniral kelen dek)," ucapnya kepada mobil cabin yang membawa Tribun Medan dam Relawan.

Akhirnya tim relawan  menurunkan air mineral dan  warga setempat berebut untuk mendapatkan air tersebut. 

Mereka mengatakan, bantuan dari pemerintah tidak sampai ke lingkungan mereka.

Jika ingin mendapatkan bantuan, mereka harus berjalan 2 kilometer ke bawah, karena di sana ada posko bantuan umum.

"Tempat kami paling terdampak, tapi kami paling jarang dapat bantuan. Kalau di bawah Kelurahan ini sudah banyak  itu menerima bantuan, di sini yang belum," jelas bapak-bapak di desa tersebut.

Sesekali terlihat mereka memanfaatkan buah rambutan sebagai pengganti minuman mereka.

Saat diwawancarai, warga Lingkungan 4 Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah Juwita mengatakan, sudah lebih dari 10 hari mereka minum dengan air banjir tersebut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved