Banjir dan Longsor di Tapteng

Perjuangan Warga Taput, Jalan Kaki 4 Jam ke Desa Parsingkaman Tapteng untuk Dapatkan Sembako

Hingga hari ini, Jumat (5/12/2025), pembersihan material masih berpusat di Desa Parsingkaman.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Maurits Pardosi
Haris Hutagalung (42), warga Kelurahan Nauli, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapteng harus menempuh perjalanan sekitar 3 hingga 4 jam ke Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput untuk mendapatkan sembako, Jumat (5/12/2025). 

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Warga dari Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) berupaya dapatkan bantuan sembako dari Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput, Jumat (5/12/2025).

Kaum ibu, bapak dan anak-anak juga turut serta mengambil sembako tersebut.

Mereka melintasi sejumlah titik longsor dari desa asal mereka menuju Desa Parsingkaman.

Hingga hari ini, Jumat (5/12/2025), pembersihan material masih berpusat di Desa Parsingkaman.

Di desa ini, ada puluhan titik yang tertimbun longsor hingga menuju perbatasan Taput - Tapteng.

Baca juga: SOSOK Bupati Aceh Selatan Mirwan Pergi Umrah Setelah Nyerah Atasi Banjir, Nekat Meski Izin Ditolak

Baca juga: KISAH Misriani dan Suami Lumpuh Selamat dari Banjir, Tapi Kini Minum Air Hujan, Krisis Air Bersih

Baca juga: Karyawan Toko Kue di Bromo Medan Nyaris Tertipu Rp500 Ribu oleh Dua Pria Berkedok Petugas Listrik

Untuk sampai ke Desa Parsingkaman, mereka mesti membuka akses baru melalui hutan. Mereka juga menyabung nyawa saat mendapatkan bantuan sembako tersebut.

"Kita datang dari Kelurahan Nauli, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapteng datang ke Parsingkaman ini untuk ambil bantuan sembako," ujar Haris Hutagalung (42), Jumat (5/12/2025) saat berada di Desa Parsingkaman.

Ia mengaku, bantuan sembako di kampungnya sudah menipis dan bahkan susu untuk anaknya pun sudah habis. Jalanan yang masih sulit dilalui membuat warga mesti mencari akses lain, menggunakan jalur hutan.

"Sampai saat ini, sembako di kampung kami sudah menipis. Maka kami bergerak ke Parsingkaman karena kami tahu bahwa akses penyaluran bantuan sudah terbuka," lanjutnya.

Selama 3 hingga 4 jam harus dihabiskan untuk sampai ke Desa Parsingkaman dari Kelurahan Nauli yang berada di Kabupaten Tapteng.

"Kita mesti habiskan waktu selama 3 hingga 4 jam untuk menempuh kawasan ini. Saya mesti tinggalkan anak dan istri di rumah" lanjutnya.

Setiap hari, ia mesti jalan dari kampungnya ke Desa Parsingkaman hanya untuk memenuhi kebutuhan selama dua hari.

"Kalau masih bisa, kita upayakan tiap hari. Tapi apa yang bisa kita ambil hari ini bisa bertahan selama dua hari. Anak-anak masih kecil maka mesti dijaga sama ibunya," lanjutnya.

Baca juga: Perjuangan Nek Surina Cari Beras untuk Keluarganya di Tengah Krisis Sembako setelah Bencana Tapteng

Baca juga: Rumah Hancur Kena Banjir di Tapteng, Misriani Lubis Minum Air Hujan selama 10 Hari

Baca juga: Rico Waas Perkuat BPBD Baru di Utara, Bentuk UPT di Wilayah Rawan Bencana

"Memang untuk susu anak-anak sudah habis. Apa yang bisa diambil atau dibawa dari Parsingkaman, itu yang kita syukuri," terangnya.

Bantuan melalui helikopter relatif jauh dari kediamannya sehingga bantuan tersebut tidak sampai.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved