Banjir dan Longsor di Sumut

Perjuangan Nek Surina Cari Beras untuk Keluarganya di Tengah Krisis Sembako setelah Bencana Tapteng

Dari kejauhan seorang lansia terlihat mengumpulkan kayu-kayu gelondongan yang berserakan pasca bencana banjir bandang dan longsor .

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
KORBAN BANJIR - Seorang Lansia Surina Boru Silaban (60) saat mengumpulkan kayu gelondongan di Desa Lupian , Tapteng untuk dijadikan tungku api, Jumat (5/12/2025). Ia menceritakan saat ini banyak warga yang mengalami krisis makanan pasca banjir dan longsor beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Dari kejauhan seorang lansia terlihat mengumpulkan kayu-kayu gelondongan yang berserakan pasca bencana banjir bandang dan longsor di Desa Lupian Kecamatan Badirik. 

Dari pantauan Tribun Medan, tenaganya sudah tidak kuat lagi untuk mengangkat kayu-kayu tersebut. Namun, ia tetap mengerjakannya secara perkahan. 

Lansia itu juga terlihat memilah kayu-kayu yang bisa dijadikan kayu bakar sesekali dengan tenaganya yang tak sekuat dulu, memotong kayu-kayu agar menjadi sama rata, mudah di ikat dan dibawa pulang. 

Setidaknya ada tiga Ikat yang berisi puluhan kayu untuk dibawanya pulang. Setelah ia mengikat, seorang pemuda tiba-tiba muncul mendekatinya dan membawa kayu tersebut dengan sepeda motor

Saat disapa, lansia tersebut bernama Surina Boru Silaban (60). Ia terpaksa ambil kayu-kayu gelondongan itu, untuk tungku api. Sebab sudah 10 hari gas di rumahnya abis. 

Sambil mata berkaca-kaca, ia bercerita, Surina bersama keluarganya mengalami krisis makanan sejak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapteng beberapa minggu lalu.

"Adalah (krisis makanan) capeklah nyari beras dimana-mana. pokoknya dicariin lah biar pun dapat sedikit dibelilah," ucapnya mengawali cerita kepada Tribun Medan, Jumat (5/12/2025).

Ia ditemani anaknya berjalan dari satu warung ke warung lainnya untuk mencari dan meminta beras.

"Saya dari desa Hutabalang, rumah ku enggak kena banjir. Jadi warung masih pada buka. Tapi itulah dapat beras hanya satu solup (satu liter atau 0,753 kg). Kami kunjung dari satu kedai (warung) ke kedai lainnya," ucapnya.

Saat itu, ia mulai mencari beras sejak satu hari setelah bencana alam terjadi. 

"Karena rumahku tidak kena banjir, tapi rumah anakku semua kena banjir. Anak saya di Desa Lupian, dan Desa Rawang sana (kena banjir) . Jadi mereka mengungsilah semua di rumah saya," ucapnya sambil tetap memindahkan kayu-kayu gelondongan untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Dilanjutkannya, untuk mendapatkan beras satu solup itu, ia pun harus ikut mengantre dan desak-desakan.

"Selain itu, kami pun harus Antre dapat beras. Karena orang juga mau makan, bukan awak (aku) saja," tuturnya.

Setelah mendapatkan beras yang ia kumpul dari warung ke warung, keesokan harinya Nek Surina juga mulai mencari bahan makanan untuk lauk makan. 

"Sempat juga enggak ada lauk kami, kadang pun makan pakai garam. Tapi karena ada cucu di rumah, saya cari lauk makan. Paling tidak telur. Dan itu saya dapat telur satu papan. Yang makan semuanya cucu. Kami nasi aja kalau tidak indomie," katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved