Berita Nasional

Imbas Pidato Prabowo Soal Ekspor SDA Wajib Lewat BUMN, IHSG Ambruk 3,5 Persen di Level 6.091

IHSG pada perdagangan sesi II sekitar pukul 14.14 WIB, ambles 3,59 persen atau 227,09 poin ke level 6.091,41.

Tayang:
Tribunnews.com
RAPAT PARIPURNA DPR - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Rapat paripurna DPR beragendakan antara lain penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal oleh Presiden Prabowo. (Tribunnews.com/Irwan Rismawan) 

TRIBUN-MEDAN.com - Imbas pernyataan Presiden Prabowo terkait ekspor sumber daya alam (SDA) melalui BUMN, telah menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (21/5/2026) siang.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada perdagangan sesi II sekitar pukul 14.14 WIB, ambles 3,59 persen atau 227,09 poin ke level 6.091,41.

Tercatat, IHSG pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB menguat ke posisi 6.366,49 dari penutupan hari sebelumnya 6.318,50.

Sejak dibuka hingga pukul 14.15 WIB, IHSG bergerak pada rentang 6.080,95 hingga 6.378,81.

Ada 695 saham merosot, 90 saham menguat, dan 174 saham stagnan.

Baca juga: Perwal Baru Wali Kota Rico Waas, Pemko Medan Tanggung Biaya Pengobatan Korban Begal

Dalam riset Pilarmas Investindo Sekuritas, pasar saham dalam negeri tertekan setelah Presiden Prabowo memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara. 

"Kebijakan pemusatan ekspor komoditas tersebut terus membayangi sentimen pasar," tulis riset Pilarmas Investindo Sekuritas, dikutip Tribunnews.com.

Meski bertujuan baik untuk mengeliminasi praktik under-invoicing dan kebocoran pendapatan negara, tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut implementasinya dikhawatirkan dapat mengganggu operasional pelaku perdagangan serta menurunkan minat investor asing.

Selain faktor tersebut, tekanan IHSG juga berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diperkirakan masih akan berlanjut, meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah mengejutkan dengan menaikkan suku bunga acuan.

Baca juga: DUDUK Perkara Model Ansy Jan De Vries Ngaku Kena Begal Hingga Koma, Ternyata Bohong, Untuk Apa?

Kebijakan agresif bank sentral tersebut dinilai belum mampu meredam kuatnya gejolak eksternal maupun memulihkan sentimen negatif investor asing terhadap pasar keuangan domestik.

"Selain itu, pelaku pasar juga tampak fokus mencermati rilis dari penyedia indeks internasional," paparnya.

Saat ini, agenda Quarterly Review FTSE Global Equity Index Series dijadwalkan rilis pada 22 Mei 2026 menjadi salah satu katalis yang paling dinantikan.

Tim riset menyampaikan, keputusan taktis dari lembaga tersebut dinilai memiliki dampak instan terhadap pergerakan modal asing, baik yang masuk maupun keluar dari Bursa Efek Indonesia.

"Perombakan susunan saham dalam indeks tersebut diyakini akan mengubah peta aliran dana investor global, tingkat likuiditas perdagangan, hingga volatilitas harga saham-saham tertentu di pasar domestik," tulisnya.

Baca juga: JAM Tayang Al Nassr Vs Damac Malam Ini, Laga Penentuan Juara, Momen Ronaldo Akhiri Puasa Trofi

Ekspor SDA Satu Pintu Melalui BUMN

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved