Berita Viral
SOSOK Irawati Puteri Disebut Langgar Perjanjian Beasiswa LPDP, Minta Publik Hubungi Pengacaranya
Irawati Puteri penerima bea siswa LPDP ogah menanggapi tudingan ada ketidaktransparanan dalam seleksinya waktu itu.
Baginya, yang lebih penting adalah bagaimana mengoptimalkan potensi individu agar investasi negara benar-benar kembali (return of investment).
Dalam konteks ini, ia menyinggung fenomena diaspora India yang banyak menduduki posisi CEO perusahaan global.
India, kata Stella, berhasil memanfaatkan diaspora sebagai kekuatan ekonomi.
Banyak profesional India di luar negeri membawa investasi, jaringan, dan reputasi global kembali ke negaranya.
“Faktanya, jika seseorang sukses di luar dan punya posisi berpengaruh, dampaknya bisa sangat besar bagi negara asal,” katanya.
Aturan 2n+1 Tidak Salah, Tapi Belum Tentu Optimal
Ketika ditanya apakah aturan wajib pulang LPDP merupakan kebijakan yang salah, Stella tidak menyebutnya keliru. Namun ia menilai kebijakan tersebut perlu dievaluasi berbasis data.
“Saya tidak mengatakan ini salah. Tapi menurut saya, secara data belum tentu menghasilkan yang paling optimal. Kita ingin uang negara kembali. Pertanyaannya, bagaimana cara paling optimal mendapatkannya?” jelasnya.
Ia mencontohkan kontribusi ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri yang membuka akses mahasiswa Indonesia ke universitas top dunia, membangun kolaborasi riset internasional, hingga menghasilkan publikasi bereputasi global.
Menurutnya, pengalaman global (jam terbang internasional) merupakan faktor penting dalam membangun kapasitas SDM unggul.
Redefinisi Pengabdian: Dari Negara ke Individu
Salah satu gagasan segar yang disampaikan Stella adalah redefinisi konsep “pengabdian”.
Selama ini, pengabdian sering dimaknai secara abstrak kepada negara atau institusi.
Padahal, kata dia, negara terdiri dari individu-individu konkret.
Baca juga: Geram, Dirut LPDP Sudarto Tegas ke Alumni: Lu Pakai Duit Pajak Rakyat, Jaga Etika dan Nasionalisme
| Beda dengan Partai Lain, Golkar Nilai Usulan KPK terkait Parpol Sangat Cerdas dan Selaras UUD 1945 |
|
|---|
| Mantan Karyawan Bongkar Kekejaman Daycare Little Aresha di Jogja yang Tidak Manusiawi |
|
|---|
| Gubernur Rudy Masud Pamer Pencapaian, Protes Kabar Negatif Soal Rumdin Rp25 M dan Mobil Rp8,5 M |
|
|---|
| SOSOK Cole Allen Pelaku Penembakan di Acara Donal Trump: Lulusan Kampus Ternama dan Guru Berprestasi |
|
|---|
| Gubernur Kaltim vs Presiden Prabowo: Dari Nepotisme hingga Kursi Pijat dan Mobil Dinas Mewah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Irawattisdfgg.jpg)