Berita Viral

Kronologi Petugas Sibuk Main Game Saat Pasien Sesak Napas, Pakar Kebijakan Kesehatan Buka Suara

Jika kejadian tersebut terbukti benar, maka ada persoalan serius dalam tata kelola layanan kesehatan

Tangkapan layar
MAIN GAMES - Petugas klinik sibuk main games mobile legend saat ada pasien sesak napas. 

TRIBUN-MEDAN.com - Seorang petugas klinik viral usai tampak sibuk main game online ketika ada pasien datang berobat.

Dikutip dari akun media sosial, sebuah video seorang wanita lanjut usia sedang duduk di meja.

Keterangan video tersebut menuliskan Saat Pasien Butuh Pertolongan Cepat Petugas Ini Malah Asik Mabar Main Game Mobile Legend.

Halo semua, ini kronologi kejadian yang aku alami bareng nenekku kemarin. Saat itu nenek aku mengalami sesak napas yang cukup parah, jadi kami langsung pergi ke klinik.
 

Pas tiba di sana, kami disuruh mendaftar dulu, aku mengerti kalau itu adalah SOP, tapi yang bikin khawatir adalah petugas laki-laki yang sedang fokus bermain game sambil menangani pendaftaran. Rasanya seharusnya dia lebih sigap mengingat kondisi nenekku yang sudah tidak kuat.
 
Di kamar pasien yang sedang kosong, ada seorang teman petugas perempuan yang sedang tiduran, Ketika dipanggil untuk membantu, dia bilang mau ke toilet terlebih dahulu padahal toilet berada di luar kamar. Saat dia keluar, petugas laki-laki yang lagi main game masih tidak bergerak untuk mencari alat yang dibutuhkan. Padahal seharusnya dia langsung bergegas mencari alat daripada menunggu teman cewe nya selesai dari toilet. Aku bahkan bertanya padanya kenapa tidak langsung mencari alat dari tadi, tapi dia tetap fokus bermain game.
 
Karena kondisi nenekku semakin parah, aku hampir memutuskan untuk meninggalkan klinik. Saat akhirnya nenekku diperiksa, ternyata alat uap yang dibutuhkan sedang habis. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Saat sudah naik motor dan mulai berjalan, kami dipanggil kembali karena katanya ada satu alat uap yang tertindih oleh barang dan baru ditemukan.
 
Melihat kondisi nenekku yang makin sulit bernapas, aku memutuskan untuk tetap tinggal dan menggunakan alat uap tersebut. Meskipun proses uap nya tidak lama, alhamdulillah kondisi nenekku membaik dan tidak sesak napas seperti sebelumnya.

Baca juga: RISMON Sianipar Akan Beri Kejutan, Ade Darmawan: Jangan Ada Pihak yang Pura-pura Gila Nanti

Potensi Kegagalan Sistem Layanan Kesehatan

Menurut dokter sekaligus pakar kebijakan kesehatan, dr. Dicky Budiman, menegaskan bahwa kasus tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata.

“Ini sekali lagi bukan sekedar optimum, tapi ini adalah potensi kegagalan sistem layanan kesehatan ya,” tegas Dicky pada Tribunnews, Rabu (1/4/2026).

Menurut dr. Dicky, jika kejadian tersebut terbukti benar, maka ada persoalan serius dalam tata kelola layanan kesehatan, khususnya terkait keselamatan pasien.

Ia mengidentifikasi setidaknya tiga potensi kegagalan utama.

Baca juga: Debat Indonesia vs Israel di Markas PBB, Minta Tanggung Jawab Gugurnya TNI di Lebanon

Pertama, kegagalan budaya keselamatan pasien atau safety culture failure. Dalam standar global, pasien dengan sesak napas harus masuk kategori prioritas tinggi.

Namun, dalam kasus ini, respons cepat tidak terlihat.

Padahal, dalam praktik medis, kondisi sesak napas pada lansia tidak bisa dianggap sepele.

“Dan keterlambatan penanganan beberapa menit saja itu bisa atau dapat meningkatkan mortalitas si pasien secara signifikan,” jelasnya.

Kedua, kegagalan sistem triase dan penerapan standar operasional prosedur (SOP).

Baca juga: Profil Timnas Senegal di Piala Dunia 2026, Sadio Mane Cs Bertemu Lawan Prancis, Norwegia dan Irak

Dalam layanan kesehatan, bahkan di tingkat klinik, seharusnya sudah ada sistem triase sederhana untuk menilai kondisi pasien sejak awal, termasuk pengecekan jalur napas, pernapasan, dan sirkulasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved