Berita Viral

KECEWA Siswa Banyak Yang Diam-Diam Batal Puasa Gegara Paket MBG, Sekolah di Pati Putuskan Tolak MBG

Fenomena 'Mokel' membatalkan puasa akibat paket makanan bergizi gratis (MBG) bikin pihak sekolah kecewa. 

TRIBUN MEDAN/Alija Magribi
PROGRAM MBG DI SIANTAR - Penyaluran MBG di SMA Negeri 1 Kota Pematangsiantar pada September 2025 lalu. Penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Pematangsiantar dipastikan tetap berlangsung kendati kegiatan belajar mengajar di sekolah sedang berhenti akibat libur akhir semester. 

TRIBUN-MEDAN.com - Fenomena 'Mokel' membatalkan puasa akibat paket makanan bergizi gratis (MBG) bikin pihak sekolah kecewa. 

Pihak sekolah di Pati Jawa Tengah memutuskan menolak paket MBG di Bulan Ramadan karena banyak siswa yang batal puasa. 

Hal itu diungkap Ketua PCNU Kabupaten Pati, Yusuf Hasyim pada Sabtu (7/3/2026).

"Walaupun sudah diupayakan menu kering, ternyata anak-anak masih terpengaruh untuk mokel,” ujar Ketua PCNU Pati, Yusuf Hasyim, Sabtu (7/3/2026).

Yusuf menjelaskan, fenomena siswa membatalkan puasa ini ditemukan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pihak sekolah dan orangtua terhadap kedisiplinan ibadah anak-anak selama bulan suci.

Sebagai dampaknya, sejumlah yayasan dan lembaga pendidikan di Pati memutuskan untuk tidak menerima distribusi MBG selama Ramadan demi menjaga kelancaran ibadah siswa.

Baca juga: NASIB Kapolsek AKP Putra Dipukul Pemuda Mabuk Saat Patroli, Brigadir Hendy Babak Belur Dikeroyok

Baca juga: Identitas Temuan Kerangka Manusia di Aek Ngadol, Ternyata Warga Garoga Korban Banjir Bandang

Usul Dialihkan Jadi Paket Sembako Mentah

Menyikapi fenomena tersebut, PCNU Pati mengusulkan agar skema program MBG selama Ramadhan dievaluasi.

Yusuf menyarankan agar bantuan makanan siap saji dialihkan menjadi paket bahan pokok mentah atau sembako, seperti beras, telur, dan bahan makanan lainnya yang bisa diolah oleh orangtua di rumah masing-masing.

“Kalau makanan cepat saji khawatirnya langsung dimakan. Kalau sembako bisa dimasak di rumah,” jelas Yusuf.

Ia juga mengusulkan agar frekuensi pembagian paket mentah tersebut bisa dilakukan dua hingga tiga hari sekali atau seminggu sekali dengan menyesuaikan pagu anggaran yang tersedia.

Namun, usulan ini masih menunggu keputusan lebih lanjut dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Sementara itu, Koordinator MBG wilayah Pati, Ahmad Khoirul Basar, menegaskan bahwa pihak sekolah memang memiliki kewenangan untuk menolak program tersebut selama bulan puasa.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap menjalankan distribusi seperti biasa bagi sekolah yang bersedia, namun bagi yang keberatan cukup melampirkan surat pernyataan resmi.

Baca juga: Bobby Lantik 308 Pejabat Pemprov Sumut, Sejumlah Kadis Ada yang Dirotasi 

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di tribun-jateng.com

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved