Revitalisasi Wilayah Kumuh, Tiongkok Jadikan Kota Tua Kashgar Pariwisata Dunia
Selain mengunjungi langsung Kota Tua Kashgar, delegasi juga mengunjungi Museum Peringatan Perlindungan dan Renovasi Kota Tua Kashgar.
Penulis: iin sholihin | Editor: Ayu Prasandi
"Pada 2015, kawasan itu ditetapkan sebagai objek wisata nasional tingkat 5A. Jumlah toko dan usaha masyarakat juga meningkat dibanding sebelum renovasi sehingga membantu menambah pendapatan warga melalui sektor pariwisata, homestay dan kerajinan tangan khas," paparnya.
Kini, Kota Tua Kashgar dinilai tidak hanya mempertahankan nuansa budaya etnis yang kuat, tetapi juga berkembang menjadi kawasan yang memadukan kehidupan masyarakat dan industri pariwisata.
Direktur Kemahasiswaan Universitas Andalas sekaligus dosen Fakultas Teknik Dr Eng Ir Dendi Adi Saputra M memuji keberhasilan pemerintah Tiongkok merevitalisasi Kota Tua Kashgar yang dinilai mampu mempertahankan nilai historis sekaligus membangun sistem kota modern dan tangguh bencana.
“Sebagai seorang insinyur, saya melihat pembangunan Kashgar sangat menarik. Pemerintah China serius membangun kota yang nyaman dan aman tanpa menghilangkan identitas budaya dan sejarah Kota Tua Kashgar,” ujarnya.
Menurutnya, konsep pembangunan pascagempa 2008 di Kashgar memperlihatkan penerapan konsep disaster resilient city atau kota tangguh bencana secara nyata.
Pemerintah melakukan penguatan struktur bangunan, penataan ulang kawasan padat penduduk, pelebaran jalur evakuasi, hingga penerapan konstruksi tahan gempa pada kawasan heritage.
“Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan berdampingan dengan teknologi modern dan mitigasi bencana. Kota tua tetap terjaga, tetapi keselamatan masyarakat juga menjadi prioritas utama,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan kawasan Kota Tua Kashgar juga berdampak besar terhadap sektor pariwisata. Pada 2025, kawasan tersebut disebut mampu menarik hingga sekitar 20 juta wisatawan.
Selain sektor tata kota, Dendi juga menyoroti transformasi transportasi ramah lingkungan di Kashgar. “Hampir 85 persen masyarakat menggunakan kendaraan listrik. Ini memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam mendorong pembangunan rendah emisi dan keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.
Dr Dendi merupakan anggota delegasi asal Sumatera Barat yang ikut ke Tiongkok. Selain Sumbar, ada pula perwakilan dari Sumatera Utara dan Aceh.
Delegasi asal Sumatera yang hadir adalah perwakilan ulama, akademisi dan tokoh masyarakat. Kehadiran mereka ke wilayah Kashgar, Xianjiang sepenuhnya difasilitasi oleh Konsulat Jenderal Tiongkok di Medan.
Tokoh yang ikut di antaranya Ketua Umum Perhimpunan INTI dr Indra Wahidin, Ketua MUI Sumatera Utara Maratua Simanjuntak, Wakil Ketua MUI Sumut HM Jamil, Ketua FKUB Sumatera Utara Muhammad Hatta Siregar, Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum, Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Nurhayati, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Agussani, Ketua Yayasan Panca Budi Siti Khadijah, Perwakilan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Panca Budi Ahmad Baqi Arifin, Ketua Muhammadiyah Aceh Abdul Malik Musa, serta Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat Fauzi Bahar.
(*/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Ketua MUI Medan Hasan Matsum Apresiasi Kerukunan Umat di Tiongkok |
|
|---|
| Masjid Etigar Kashgar, Simbol Eksistensi Islam di Tiongkok Selama 584 Tahun |
|
|---|
| Profil Eileen Wang, Mantan Wali Kota di California AS yang Mengaku Jadi Mata-mata Tiongkok |
|
|---|
| Prof Nurhayati: Xianjiang Islamic Institute Buktikan Tiongkok Peduli Muslim |
|
|---|
| Senyum Abdullah, Pemuda Uighur Calon Imam Masjid Masa Depan Tiongkok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/KOTA-TUA-Maket-revitalisasi-Kota-Tua-Kashgar.jpg)