Ketua MUI Medan Hasan Matsum Apresiasi Kerukunan Umat di Tiongkok

Ia juga menelaah metode pendidikan Islam yang dilakukan kepada para pemuda Islam Tiongkok di Xinjiang Islamic Institute.

Tayang:
Penulis: iin sholihin | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/iin sholihin
DOKUMENTASI - Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum mendokumentasikan dalam bentuk video saat satu di antara mahasiswa Xianjiang Islamic Institute membaca surah Al-Fatihah saat meninjau proses belajar di kampus, Rabu (13/05/2026). Delegasi asal Sumatera berisi ulama, akademisi dan tokoh masyarakat tengah berada di Tiongkok saat ini. 

TRIBUN-MEDAN.COM, XIANJIANG - Ketua MUI Medan Hasan Matsum mengapresiasi kerukunan antar umat beragama yang terjadi di wilayah Tiongkok

Hasan melihat langsung bagaimana komunitas muslim di Tiongkok mendapatkan haknya untuk menjalankan ibadah kala mengunjungi beberapa tempat di wilayah Provinsi Xianjiang. 

Hasan merupakan satu di antara anggota delegasi ulama, akademisi dan tokoh masyarakat Sumatera yang berkunjung ke Tiongkok sejak Senin (11/05/2026) hingga Kamis (14/05/2026).

Hasan mengunjungi tiga lokasi konumitas muslim, khususnya dari suku Uighur yakni di Masjid Erdaoqiao kawasan Xinjiang International Grand Bazaar,  Xianjiang Islamic Institute dan Masjid Etigar di Khasgar.

"Melalui pertemuan dengan pimpinan Xianjiang Islamic Institute dan asosiasi Islam Tiongkok, MUI  Medan mengapresiasi upaya pemerintah Tiongkok dalam membangun kerukunan umat beragama di negara ini," ujar Hasan Matsun kepada Tribun, Kamis (14/05/2026).

Hasan merinci, ada tiga penguatan kerukunan umat beragama yang dilakukan Tiongkok. Pertama,  melalui peran State Administration for Religious Affairs atau semacam kementerian agama di Indonesia.
 
"Kedua melalui China Ilamic Association atau semacam MUI untuk umat Islam Tiongkok dak ketiga melalui majelis-majelis agama lainnya yang ada di Tiongkok," papar Hasan.

Ia juga menelaah metode pendidikan Islam yang dilakukan kepada para pemuda Islam Tiongkok di Xinjiang Islamic Institute.

"Metode pembelajaran yang diterapkan di Institut Agama Islam Xinjiang ada dua yaitu metode bandongan, di mana peserta didik atau mahasiswa membaca kitab lalu dijelaskan oleh guru/kiyai yang mengajar," lanjutnya.

Metode pembelajaran lain, lanjut Hasan, yakni metode hafalan. Caranya guru/kiyai membimbing hafalan peserta didik atau mahasiswa.

Apresiasi sama juga disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan Prof Nurhayati yang melihat langsung pembelajaran yang dilaksanakan di Xianjiang Islamic Institute.

"Institut ini benar-benar luar biasa. Karena selama ini di media sosial kita dengar pemerintah tidak peduli dengan masyarakat muslim. Tapi yang sebenarnya, pemerintah sangat-sangat peduli tentang muslim di tempat ini," kata Prof Nurhayati.

"Kami menjadi tahu bahwa Xinjiang Islamic Institute membuktikan bahwa pemerintah benar-benar peduli tentang masyarakat muslim di Xinjiang. Kita juga tahu bahwa ada beasiswa yang diberikan pemerintah beserta fasilitas yang sangat-sangat baik," lanjutnya. 

Xinjiang Islamic Institute saat ini tengah mendidik ribuan pemuda Muslim Tiongkok, khususnya dari etnis Uighur dan Hui.

Xianjiang Islamic Institute memang mempersiapkan calon imam untuk memimpin umat dikemudian hari. Ada ribuan pemuda muslim dari berbagai penjuru Tiongkok yang tengah menuntut ilmu selama empat tahun di kampus ini. 

Pemuda dari etnis Uighur dan Hui memang mendominasi di kampus ini. Jumlah mereka lebih besar dibanding dari suku lainnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved