Siapkan Alat Berat dan Lakukan Koordinasi, BPBD Karo Antisipasi Bencana Banjir dan Longsor

wilayah di sepanjang jalur utama lintas kabupaten ini memiliki topografi berbukit dan didominasi oleh hutan.

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Eti Wahyuni
Tribunnews.com/Muhammad Nasrul
CUACA EKSTREM - Sejumlah pengendara tampak mengenakan jas hujan saat melintas di Jalan Jamin Ginting, Kabanjahe, Rabu (26/11/2025). Untuk antisipasi terjadinya bencana, BPBD Karo sebut akan berkolaborasi dengan stakeholder untuk menyiagakan alat berat di titik rawan. 

TRIBUN-MEDAN.com, KABANJAHE - Akibat perubahan cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini, sejumlah wilayah di Sumatera Utara mengalami bencana.

Dikutip dari siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), akibat perubahan cuaca yang diperparah dengan terjadinya siklon tropis ini, empat kabupaten di Sumatera Utara dilanda banjir bandang dan tanah longsor.

Sebagai informasi, terjadinya bencana hidrometrologi ini meliputi Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Selain korban jiwa, peristiwa ini juga mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat.

Sejauh ini, dampak dari perubahan cuaca ekstrem belum berdampak signifikan terhadap alam di wilayah Kabupaten Karo. Berdasarkan informasi yang didapat dari Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo Juspri Nadeak, pihaknya belum mendapatkan informasi adanya potensi terjadinya bencana.

"Sejauh ini meski pun curah hujan cukup tinggi, kita belum terima laporan adanya potensi bencana di wilayah kita. Namun begitu, jika melihat kondisi seperti saat ini patut kita waspadai terjadinya bencana seperti daerah tetangga kita," ujar Juspri, Rabu (26/11/2025).

Baca juga: Hampir Sepekan Cuaca Ekstrem di Karo, BPBD Imbau Waspada Bencana Hidrometrologi

Ketika ditanya perihal antisipasi yang telah dilakukan, Juspri mengaku pihaknya hingga saat ini telah berkomunikasi dengan stakeholder terkait untuk pencegahan. Pihaknya masih terus memantau pergerakan angin dan hujan yang sewaktu-waktu bisa semakin memburuk untuk selanjutnya melakukan langkah antisipasi.

"Seperti kemarin kita sudah berkomunikasi lintas sektoral melalui apel gabungan antisipasi bencana di Polres. Kita juga sudah membuat edaran ke masyarakat, untuk menghindari sejumlah titik rawan seperti bantaran sungai dan perbukitan," ucapnya.

Jika melihat kondisi seperti saat ini, untuk di Kabupaten Karo diketahui salah satu titik rawan terjadinya bencana alam di musim penghujan berada di jalur Berastagi menuju Medan. Dimana, wilayah di sepanjang jalur utama lintas kabupaten ini memiliki topografi berbukit dan didominasi oleh hutan.

Tak hanya itu, mengingat kembali peristiwa tahun lalu dimana terjadi beberapa titik longsor di seputar Tahura, Desa Doulu, dan Desa Semangat Gunung, tentunya salah satu antisipasi yang diperlukan ialah penyediaan alat berat. Dimana, dengan ketersediaan alat berat disertai operatornya akan mempermudah dan mempercepat proses penanggulangan jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

"Saat ini masih terus kita pantau bagaimana siklus cuacanya ini, jika memang ke depan semakin parah kita akan berkomunikasi dengan instansi yang memiliki alat berat. Kalau memang sudah diperlukan untuk antisipasi, akan segera kita siagakan alat berat di titik rawan," ungkapnya.

Dikatakan Juspri, jika melihat siklus hujan yang masih terus cukup tinggi mengguyur wilayah Kabupaten Karo tentunya potensi terjadinya bencana juga cukup tingggi. Terutama mengingat wilayah Kabupaten Karo yang memiliki kontur topografi dataran berbukit, membuat potensi bencana hidrometrologi dapat sewaktu-waktu terjadi.

"Ya mengingat topografi daerah kita yang berada di ketinggian, tentunya dengan terjadinya cuaca ekstrem ini dapat sewaktu-waktu terjadi bencana hidrometrologi. Antara lain banjir bandang, atau pun tanah longsor seperti yang terjadi tahun lalu," pungkasnya.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved