TRIBUN WIKI
Masjid Raya Petumbukan: Tradisi Bubur Lambok dan Sejarah Panjang Ramadan
Masjid Raya Petumbukan merupakan masjid yang masih mempertahankan tradisi bagi-bagi takjil, khususnya bubur lambok.
Penulis: Indra Gunawan | Editor: Array A Argus
Ringkasan Berita:
- Masjid Raya Petumbukan berdiri sejak tahun 1973, dengan desain terinspirasi Masjid Kuba di Mekah
- Setiap Ramadan, masjid ini membagikan sekitar 500 porsi bubur lambok khas Melayu, yang menjadi tradisi turun-temurun warga setempat
- Selain pembagian bubur, masjid aktif menggelar tadarusan dan iktikaf yang rutin diikuti jamaah selama bulan suci
TRIBUN-MEDAN.COM,- Masjid Raya Petumbukan di Desa Petumbukan, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, merupakan satu ikon religi dan budaya yang tetap hidup dan berkembang sejak didirikan pada tahun 1937.
Selain menjadi pusat ibadah, masjid ini juga dikenal karena tradisi unik dan turun-temurun yang masih dijalankan setiap bulan Ramadan, yaitu pembagian bubur lambok yang menjadi favorit warga sekitar.
Baca juga: Masjid MTQ Asahan, Saksi Sejarah Dimulainya Perlombaan MTQ di Indonesia
Sejarah dan Arsitektur Megah Masjid Raya Petumbukan
Bangunan Masjid Raya Petumbukan kini tampak semakin megah dan modern dibandingkan saat pertama kali berdiri.
“Dibangun sejak 1937, Masjid Raya Petumbukan sampai saat ini berdiri semakin megah,” kata Syaiful Bahri Lubis, tokoh masyarakat setempat.
Baca juga: Masjid Raya Taqwa Parapat: Kisah di Balik Ide Soekarno yang Dijemput Masyarakat Setempat
Masjid ini memiliki desain arsitektur yang terinspirasi dari Masjid Kuba di Mekah, dengan tiang-tiang pilar kuat yang menopang teras dan kubah utama yang dikelilingi kubah-kubah kecil berwarna perpaduan putih dan biru langit.
Dinding dalam sudah dilapisi keramik, dan jendela-jendela kayu berkaca menambah kesan elegan pada bangunan.
Masjid ini mampu menampung ratusan jemaah di dalam ruang utama, sementara halaman yang luas bisa menampung jemaah dalam jumlah lebih banyak pada momen-momen tertentu.
Baca juga: Masjid Aljihad Medan Siapkan Beragam Kegiatan Ramadan, Buka Puasa hingga Iktikaf 10 Malam Terakhir
“Bentuk masjid mengikuti masjid Kuba di Mekah inspirasinya. Tiang-tiang pilar mengikuti bentuk penyokong teras. Warna sengaja kayak batu alam,” tambah Syaiful.
Selain itu, di bagian belakang masjid terdapat tiga makam keluarga pewakaf lahan yang dulunya merupakan milik Permaisuri Tengku Darwis Syah.
Tradisi Bubur Lambok Sajian Khas Ramadhan
Salah satu tradisi yang sangat melekat dengan Masjid Raya Petumbukan adalah pembagian bubur lambok selama bulan Ramadhan.
Baca juga: Teh Chai dan Bubur Rempah Jadi Andalan, Hidangan Khas India di Masjid Jamik Kebun Bunga
Dua jam sebelum waktu berbuka, warga mulai berkumpul di halaman masjid menunggu sajian bubur khas Melayu ini.
“Bubur lambok ini hampir sama dengan bubur pedas yang juga khas Melayu. Tiap hari selama Ramadhan selalu dibagikan dan rasanya enak sekali. Dananya itu BKM (Badan Kemakmuran Masjid) mengkoordinir para dermawan,” jelas Syaiful Bahri Lubis, tokoh masyarakat setempat.
Setiap harinya, sekitar 500 porsi bubur lambok disiapkan oleh panitia dan berasal dari donasi dermawan wilayah tersebut.
Baca juga: Jadi Menu Andalan sejak 1960, Masjid Ghaudiyah Hidangkan Bubur Khas India Selatan
Bubur tidak dimasak di area masjid, melainkan di rumah pembuatnya, dan baru dibawa ke masjid sekitar pukul 16.30 untuk dibagikan kepada warga yang hadir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Masjid-Raya-Petumbukan-Kecamatan-Galang-Deli-Serdang.jpg)