Teh Chai dan Bubur Rempah Jadi Andalan, Hidangan Khas India di Masjid Jamik Kebun Bunga 

Hasan, kepala dapur pembuat teh chai di masjid tersebut, mengatakan, proses pembuatan minuman khas India itu memakan waktu sekitar satu jam.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
MENU BERBUKA PUASA- Aroma teh chai khas India tercium hingga ke depan Masjid Jamik Kebun Bunga menjelang waktu berbuka puasa, menggugah selera ratusan jamaah yang setiap hari menikmati sajian tradisi Ramadan tersebut. 

TRIBUN–MEDAN.com, MEDAN - Suasana Ramadan di Masjid Jamik Kebun Bunga kembali semarak. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masjid yang dikenal sebagai pusat komunitas India Muslim di Kota Medan ini rutin menyediakan menu khas India untuk jemaah berbuka puasa, yakni teh chai dan bubur sup Kasinda.

Menjelang waktu magrib, aroma teh chai yang tengah dimasak di dapur masjid perlahan menyeruak hingga ke halaman bahkan ke depan masjid. Wangi rempah yang hangat berpadu dengan seduhan teh pekat seolah menggoda siapa saja yang melintas. Pada jam-jam rawan menjelang berbuka, harum tersebut terasa begitu menggugah selera dan menambah semarak suasana Ramadan.

Hasan, kepala dapur pembuat teh chai di masjid tersebut, mengatakan, proses pembuatan minuman khas India itu memakan waktu sekitar satu jam.

“Pembuatannya sekitar satu jam. Pertama air dimasak dulu, kemudian dimasukkan bubuk teh dan rempah-rempah,” ujarnya saat ditemui Tribun Medan, Senin (23/2/2026).

Rempah yang digunakan cukup beragam, mulai dari jahe merah, jahe biasa, kapulaga India, bunga lawang, kayu manis, cengkeh hingga sedikit daun mint.

Baca juga: Resep Samosa Ayam Kuliner Khas India Memiliki Cita Rasa Gurih dan Renyah 

“Kalau rasanya mirip seperti bandrek, cuma ini lebih lembut. Bandrek kan pakai merica, kalau chai ini tidak, jadi rasa rempahnya lebih alami,” jelas Hasan.

Menurutnya, proses memasak teh chai tidak tergolong sulit. “Tidak sulit, tinggal dimasukkan saja bahan-bahannya,” katanya.

Hasan sendiri sudah hampir 20 tahun terlibat dalam pembuatan teh chai di masjid tersebut. Ia belajar dari almarhum Pak Ali, sosok senior yang dahulu menjadi peracik utama minuman khas itu.

Sementara itu, Ketua Yayasan India Muslim Selatan Sumatera Utara, H Muhammad Siddik Saleh, mengatakan menu berbuka puasa di Masjid Jamik Kebun Bunga pada dasarnya tidak banyak berubah dari tahun ke tahun.

“Hampir sama. Setiap hari ada bubur sup Kasinda dan minumannya chai. Chai ini perpaduan antara teh tarik dengan bandrek,” ujarnya.

Ia menyebutkan, setiap hari sedikitnya 200 orang berbuka puasa di masjid tersebut. Jemaah yang datang pun beragam, mulai dari warga sekitar hingga pengemudi ojek online.

Tak hanya itu, setiap Minggu selama Ramadan juga digelar ‘mure’ atau buka puasa bersama dengan menu khas India. Salah satunya nasi biryani dan kari yang baru-baru ini dihadiri sekitar 300 orang.

“Ciri khas Indianya tetap ada. Misalnya nasi biryani, kadang nasi minyak. Rempah-rempahnya yang membedakan,” katanya.

Menurut Siddik, tradisi penyediaan teh chai di masjid ini sudah ada sejak 1960. Hanya saja, dulu belum semeriah sekarang.

“Dulu masaknya di sini, buburnya, chainya. Wanginya sampai ke tetangga-tetangga,” kenangnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved