TRIBUN WIKI
Masjid MTQ Asahan, Saksi Sejarah Dimulainya Perlombaan MTQ di Indonesia
Masjid MTQ 1946 menjadi saksi sejarah Islam di Kabupaten Asahan, karena menjadi tempat perlombaan MTQ pertama di Indonesia.
Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Array A Argus
Ringkasan Berita:
- Masjid MTQ 1946 tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga monumen sejarah akan perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur'an pertama di Indonesia
- Tokoh masyarakat Ali Umar menjadi penggagas lomba membaca Al-Qur’an yang bertujuan meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap kitab suci
- MTQ pertama diikuti peserta dari Asahan, Simalungun, Tanjungbalai, Batubara, hingga Belawan
TRIBUN-MEDAN.COM,- Di satu sudut Desa Pondok Bungur, yang dikenal juga sebagai Kampung Bunga di Kecamatan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan, berdiri sebuah masjid sederhana dengan pilar berwarna oranye.
Di depan bangunan itu menjulang tiang pengeras suara yang tinggi.
Meski tampak sederhana, tempat ini menyimpan kisah penting dalam sejarah Islam di Indonesia.
Baca juga: Masjid Lama Gang Bengkok: Sejarah Keislaman dan Budaya Tionghoa yang Menyatu
Masjid tersebut kini dikenal sebagai Masjid MTQ 1946, sebuah monumen yang menandai lahirnya perlombaan membaca Al-Qur’an pertama di Tanah Air.
Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pengingat perjalanan panjang lahirnya tradisi Musabaqah Tilawatil Quran yang kini rutin diselenggarakan di berbagai daerah hingga tingkat nasional.
Dari desa kecil inilah tradisi lomba membaca Al-Qur’an mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Baca juga: Pesta Tapai, Jejak Sejarah Perdagangan di Kabupaten Batubara
Lahirnya MTQ Pertama pada 12 Februari 1946
Masjid tersebut dinamai Masjid MTQ 1946 karena di tempat inilah perlombaan membaca Al-Qur’an pertama kali digelar pada 12 Februari 1946.
Peristiwa ini terjadi ketika Indonesia bahkan belum genap satu tahun merdeka.
Baca juga: Cap Go Meh 2026: Tanggal, Makna, dan Sejarah yang Perlu Anda Ketahui
Kegiatan tersebut digagas oleh seorang tokoh masyarakat bernama Ali Umar yang memiliki gagasan besar untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an.
Dalam buku yang ditulisnya, Ali Umar menjelaskan bahwa perlombaan tersebut terbuka bagi para pemuda dan pemudi dari berbagai daerah di sekitar Kabupaten Asahan.
Baca juga: Sejarah PT Garuda Mas Perkasa, Pabrik Sendal Merk Swallow yang Kebakaran
Tujuannya bukan sekadar mencari pemenang, tetapi juga membangun semangat masyarakat untuk mempelajari dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan baik.
Gagasan yang Sempat Mendapat Penolakan
Ide perlombaan membaca Al-Qur’an sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1938.
Saat itu Ali Umar baru kembali dari pendidikannya di Kabupaten Langkat dan mulai membangun sebuah sekolah di Desa Pondok Bungur.
Baca juga: Asal Usul Nama Jembatan Kabanaran yang Awalnya Jembatan Pandansimo, Dikaji Atas Nilai Sejarah
Ia ingin menghadirkan kegiatan yang mampu meningkatkan pemahaman agama masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Masjid-MTQ-1946-yang-ada-di-Asahan.jpg)