Jadi Menu Andalan sejak 1960, Masjid Ghaudiyah Hidangkan Bubur Khas India Selatan
Biaya penyediaan makanan berbuka rata-rata mencapai Rp 5 juta per hari, dan meningkat hingga Rp 15 –20 juta pada hari tertentu
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tradisi memasak bubur khas India Selatan untuk berbuka puasa di Masjid Ghaudiyah, Jalan Zainul Arifin, Kota Medan, telah berlangsung sejak tahun 1960 dan terus dipertahankan hingga Ramadan 2026.
Ketua Yayasan India Muslim Selatan Sumatera Utara, H Muhammad Siddik Saleh, mengatakan, tradisi tersebut bahkan sudah ada jauh sebelum dirinya lahir. Bubur Ramadan menjadi bagian dari kegiatan sosial dan keagamaan komunitas India Muslim di kawasan tersebut.
“Bubur itu sejak saya belum hadir di dunia ini sudah ada. Tahun 1960 sudah mulai dimasak, dulu masaknya semua terpusat di Masjid Jamik Kebun Bunga,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (25/2/2026).
Ia menjelaskan, pada masa awal, proses memasak dilakukan di bagian bawah masjid yang saat itu belum beratap. Berbagai masakan seperti bubur hingga nasi briyani dimasak bersama sehingga aroma rempahnya menyebar ke seluruh lingkungan sekitar.
“Kalau masak dulu wanginya sampai satu kampung,” katanya.
Tradisi ini bermula ketika yayasan masih menggunakan nama berbahasa Inggris South India Muslim Welfare and Committee, sebelum kemudian berganti menjadi Yayasan India Muslim Selatan Sumatera Utara, mengikuti ketentuan administrasi nasional.
Baca juga: Resep Jemblem Khas Jawa Timur, Menu Buka Puasa Sederhana Tapi Menggoda Selera
Selama Ramadan, bubur disajikan setiap hari sebagai menu utama berbuka puasa bagi jamaah. Biaya penyediaan makanan berbuka rata-rata mencapai Rp 5 juta per hari, dan meningkat hingga Rp 15 –20 juta pada hari tertentu, terutama saat menu nasi briyani kambing dimasak.
Menurut Siddik, nasi briyani dikenal sebagai hidangan istimewa yang dahulu hanya disajikan untuk kalangan kerajaan di India.
“Briyani itu dulunya makanan raja. Sekarang sudah bisa dinikmati masyarakat, tapi biaya memasaknya tetap mahal,” ujarnya.
Sekali memasak nasi briyani, panitia menggunakan sekitar 30 kilogram daging kambing dan 40 kilogram beras untuk melayani sekitar 300 hingga 400 jamaah.
Selain bubur, jamaah juga mendapatkan minuman khas India Selatan bernama chai, yakni teh susu rempah dengan cita rasa khas yang berbeda dari teh tarik mau pun bandrek. Minuman ini menjadi pendamping tetap menu berbuka setiap hari.
Sementara itu, Salmah (61), juru masak bubur Ramadan, menjelaskan proses memasak bubur membutuhkan waktu panjang karena menggunakan bumbu rempah khas India Selatan.
“Daging direbus dulu dengan rempah sampai matang, baru pakai santan dan dimasukkan beras. Rebusnya saja lima sampai enam jam,” katanya.
Dalam sekali memasak, digunakan sekitar 12 hingga 15 kilogram beras dengan campuran bumbu khas India yang menjadi pembeda utama dari bubur pada umumnya.
Selama satu bulan penuh Ramadan, bubur dimasak setiap hari hingga akhir puasa. Yayasan juga menyediakan takjil serta teh susu khas India, sementara menu kari kambing dan nasi briyani disajikan pada waktu tertentu.
Tradisi berbagi makanan ini menjadi warisan budaya komunitas India Muslim di Medan yang telah berlangsung lintas generasi, sekaligus mempererat kebersamaan jamaah setiap Ramadan.
| KISAH Edi Pedagang Siomay Mudik Dorong Gerobak 130 Km Cuma Pakai Sandal dan Bawa Uang Rp40 Ribu |
|
|---|
| Momen Nyepi dan Ramadan Bersamaan, Umat Hindu di Medan Jaga Harmoni dan Toleransi |
|
|---|
| ALASAN Ponpes Gontor Ponorogo dan Al Falah Ploso Kediri Tetapkan Lebaran 20 Maret 2026 |
|
|---|
| Nyepi Bertepatan dengan Ramadan, Umat Hindu di Medan Tetap Jaga Toleransi |
|
|---|
| Selama Ramadan, Polrestabes Medan Catat Angka Kriminal Jalanan Turun 14 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Salmah-61-mengaduk-bubur-khas-India-Selatan-yang-dimasak-selama-lima-hingga-enam-jam-1.jpg)