TRIBUN WIKI
Hukum Puasa Sunnah Setelah Nisfu Syaban, Apakah Boleh Dilakukan?
Hukum puasa sunnah setelah Nisfu Syaban boleh saja dilakukan, dengan dalil dari riwayat Aisyah R.A
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Ringkasan Berita:
- Hukum puasa sunnah setelah Nisfu Syaban masih menjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama. Sebagian membolehkan, sementara sebagian lain melarang dengan dasar hadis yang berbeda
- Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung melarang puasa sunnah mutlak setelah Nisfu Syaban, kecuali bagi yang sudah terbiasa berpuasa atau memiliki alasan seperti qadha. Sementara Mazhab Hanafi dan sebagian Maliki menilai hadis larangan lemah dan membolehkan puasa sunnah tanpa syarat khusus
TRIBUN-MEDAN.COM,- Beberapa orang mungkin sering bertanya mengenai hukum puasa sunnah setelah Nisfu Syaban.
Sebab, mengenai hal ini, ada perbedaan pandangan di kalangan ulama.
Ada yang menyebutkan boleh, ada yang menyebutkan tidak.
Baca juga: Kapan Hari Puasa Tasua dan Asyura 2025? Ini Jadwalnya Lengkap Puasa Sunnah Bulan Muharram
Yang melarang melaksanakan puasa sunnah setelah Nisfu Syaban, seperti puasa Senin Kamis kemungkinan bersandar pada hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila telah masuk pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Tapi di sisi lain, bagi mereka yang tetap menjalankan ibada puasa sunnah setelah Nisfu Syaban juga berpegang pada apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah.
Baca juga: Niat Puasa Sunnah Bulan Dzulhijjah Beserta Cara Pelaksanaannya
Selama bulan Syaban, Rasulullah kerap memperbanyak amalan puasanya.
Aisyah RA meriwayatkan:
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa lebih banyak di bulan lain selain di bulan Sya'ban." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bersandar pada hadist ini, mereka yang ingin menjalankan ibada puasa sunnah setelah Nisfu Syaban tetap saja bisa melaksanakannya.
Baca juga: Doa dan Niat Puasa Syaban, Amalan Istimewa Rasulullah Menjelang Bulan Ramadhan
Pandangan Imam Mazhab
Dilansir dari laman Baznas, Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpegang pada hadis larangan puasa setelah pertengahan Sya'ban. \
Menurut pendapat ini, puasa sunnah setelah Nisfu Sya'ban menjadi tidak diperbolehkan kecuali bagi yang memiliki kebiasaan puasa sunnah atau mengqadha puasa.
Mayoritas ulama dari kalangan Mazhab Syafi’i (banyak dianut di Indonesia cenderung berhati-hati.
Baca juga: Jadwal Puasa Muhammadiyah atau Awal Puasa Ramadhan 1447 Hijriah
Mereka berpendapat bahwa puasa setelah tanggal 15 Sya'ban hukumnya haram jika dilakukan tanpa sebab (puasa sunnah mutlak).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/puasa-sunnah-setelah-Nisfu-Syaban.jpg)