TRIBUN WIKI

Hukum Puasa Sunnah Setelah Nisfu Syaban, Apakah Boleh Dilakukan?

Hukum puasa sunnah setelah Nisfu Syaban boleh saja dilakukan, dengan dalil dari riwayat Aisyah R.A

Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Pinterest/CHICLEBELLE PHOTOGRAPHY
BUKA PUASA- Ilustrasi sebuah keluarga saat tengah melaksanakan buka puasa di rumah dengan penuh kehangatan. 

Ringkasan Berita:
  • Hukum puasa sunnah setelah Nisfu Syaban masih menjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama. Sebagian membolehkan, sementara sebagian lain melarang dengan dasar hadis yang berbeda
  • Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung melarang puasa sunnah mutlak setelah Nisfu Syaban, kecuali bagi yang sudah terbiasa berpuasa atau memiliki alasan seperti qadha. Sementara Mazhab Hanafi dan sebagian Maliki menilai hadis larangan lemah dan membolehkan puasa sunnah tanpa syarat khusus

 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Beberapa orang mungkin sering bertanya mengenai hukum puasa sunnah setelah Nisfu Syaban.

Sebab, mengenai hal ini, ada perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Ada yang menyebutkan boleh, ada yang menyebutkan tidak.

Baca juga: Kapan Hari Puasa Tasua dan Asyura 2025? Ini Jadwalnya Lengkap Puasa Sunnah Bulan Muharram

BUKA PUASA- Ilustrasi sejumlah umat muslim saat melaksanakan buka puasa bersama di masjid dalam suasana sederhana yang begitu hangat.
BUKA PUASA- Ilustrasi sejumlah umat muslim saat melaksanakan buka puasa bersama di masjid dalam suasana sederhana yang begitu hangat. (Pinterest/Ahmed Hussein)

Yang melarang melaksanakan puasa sunnah setelah Nisfu Syaban, seperti puasa Senin Kamis kemungkinan bersandar pada hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila telah masuk pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Tapi di sisi lain, bagi mereka yang tetap menjalankan ibada puasa sunnah setelah Nisfu Syaban juga berpegang pada apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Baca juga: Niat Puasa Sunnah Bulan Dzulhijjah Beserta Cara Pelaksanaannya

Selama bulan Syaban, Rasulullah kerap memperbanyak amalan puasanya.

 Aisyah RA meriwayatkan:

"Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa lebih banyak di bulan lain selain di bulan Sya'ban." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersandar pada hadist ini, mereka yang ingin menjalankan ibada puasa sunnah setelah Nisfu Syaban tetap saja bisa melaksanakannya.

Baca juga: Doa dan Niat Puasa Syaban, Amalan Istimewa Rasulullah Menjelang Bulan Ramadhan

PUASA RAMADHAN- Ilustrasi sahur bersama saat menyambut puasa Ramadhan. Tahun ini, puasa Ramadhan menurut Muhammadiyah jatuh pada 18 Februari 2025.
PUASA RAMADHAN- Ilustrasi sahur bersama saat menyambut puasa Ramadhan. Tahun ini, puasa Ramadhan menurut Muhammadiyah jatuh pada 18 Februari 2025. (Pinterest/Kang Uje Life)

Pandangan Imam Mazhab

Dilansir dari laman Baznas, Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpegang pada hadis larangan puasa setelah pertengahan Sya'ban. \

Menurut pendapat ini, puasa sunnah setelah Nisfu Sya'ban menjadi tidak diperbolehkan kecuali bagi yang memiliki kebiasaan puasa sunnah atau mengqadha puasa.

Mayoritas ulama dari kalangan Mazhab Syafi’i (banyak dianut di Indonesia cenderung berhati-hati.

Baca juga: Jadwal Puasa Muhammadiyah atau Awal Puasa Ramadhan 1447 Hijriah

Mereka berpendapat bahwa puasa setelah tanggal 15 Sya'ban hukumnya haram jika dilakukan tanpa sebab (puasa sunnah mutlak).

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved