Banjir dan Longsor di Tapteng

Sempat Menangis Melihat Rumahnya Sudah Rata Dengan Tanah, Asrin: Ngerilah, Semua Turun ke Desa

Dari kejauahan dilihatnya, desa yang terkenal dengan duriannya yang legit itu sudah tidak ada bangunan.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Asrin Hutagalung, saat diwawancarai Tribun Medan di Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli Kabupaten Tapteng, Senin (8/12/2025). Asrin merupakan satu diantara korban bencana banjir dan longsor yang rumahnya rata dengan tanah. 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Asrin Hutagalung, satu diantara korban bencana banjir dan longsor di Desa Bair Kecamatan Tapian Nauli Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) hanya bisa pasrah saat rumahnya telah rata dengan tanah.  

Ia mengetahui rumahnya rata dengan tanah, saat kembali datang ke desanya di hari kedua pasca bencana banjir dan longsor, Kamis (27/11/2025) lalu. 

Dari kejauahan dilihatnya, desa yang terkenal dengan duriannya yang legit itu sudah tidak ada bangunan.

Ada 20 rumah di desa itu, satu Kantor Desa semuanya rata dengan tanah.

"Setelah mengungsi hari pertama, kami naik ke atas lagi (ke desa Bair) untuk cek rumah. Tapi gak bisa kita pijak, karena masih lumpur.

Rumah saya hancur dan hanyut Gimanalah nangis aja (lihat rumah dan desa tempatnya tinggal sudah rata dengan tanah). Gak ada lagi tempat kami untuk berteduh,"ucapnya saat ditemui Tribun Medan saat ia sedang perjalanan turun dari desanya dengan membawa belasan durian yang sedang dipanggulnya, Senin (9/12/2025).

Ia pun mengenang proses pembangunan rumah yang dibangunnya sendiri dari hasil deres karet miliknya. 

"Itu rumah, saya bangun sendiri ada 18 tahun (sudah terbagun).Dapat uang, bangun sedikit. Ada uang lagi kami kumpul bangun lagi. Akhirnya terbangunlah rumah itu. Dari menderes karet itulah uangnya. Kalau durian ini penghasilan setahun sekalinya," jelasnya.

Pada saat kejadian, Asrin beserta warga lain tidak sempat membawa barang apapun. Hanya baju di badan saja.

"Kami hanya bawa baju di badan sajalah. Ada 20 rumah di sana habis (rata dengan tanah). Ngerilah," ucapnya.

Diceritakannya, ada beberapa kali longsor dalam jarak waktu yang cukup berdekatan di hari pertama bencana Selasa (25/11/2025).

Namun, di hari berikutnya, Rabu (26/11/2025) terjadilah longsor besar bersamaan dengan banjir yang menewaskan 7 orang di desa tersebut.

"Sebenarnya longsor pertama itu sudah terasa. Awal mulanya dari Desa Mela Dolok dulu. Jadi mereka mengungsi ke Bair.

Ternyata ada longsor lagi, jadi mengungsilah ke gereja. Namun memang ada sebagian yang memilih tetap bertahan," jelasnya.

Waktu saat kejadian longsor besar di Hari Rabu (26/11/2025), katanya ada suara petir yang cukup panjang. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved