Banjir dan Longsor di Tapteng

Derai Tangis Elisabet Hutabarat kala Kursi Roda Didapat tapi Jasad Ayah masih Hilang Terbawa Banjir

Bencana banjir bandang dan longsor pada Selasa (25/11/2025) telah melenyapkan satu perkampungan, merenggut 7 nyawa.

Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso
MENANTI JASAD AYAH - Elisabet Hutabarat (20) seorang perawat lansia yang mencari keberadaan jasad ayah dan abangnya tertimbun longsor di Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Senin (8/12/2025). Sudah 2 pekan sejak 24 November, keduanya tidak ditemukan. 

TRIBUN-MEDAN.com, TAPIAN NAULI - Keindahan alam Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Tapanuli Tengah, yang dulu terkenal dengan air terjun Aloban Bair, kini tinggal kenangan pahit.

Bencana banjir bandang dan longsor pada Selasa (25/11/2025) telah melenyapkan satu perkampungan, merenggut 7 nyawa, dan mengubah sungai jernih menjadi aliran tanah merah kering dipenuhi kayu gelondongan.

Desa yang dulunya sejuk tentram kini menjadi saksi bisu kehancuran total.

Hari ini, Senin (8/12/2025), suasana di Desa Bair diselimuti ketegangan.

Sejumlah warga tampak terduduk lesu, hanya bisa menyaksikan tim Search and Rescue (SAR) gabungan (Basarnas, BPBD, Polisi, dan TNI) bekerja keras mencari empat korban tewas yang masih tertimbun tanah.

Saksi mata dan korban selamat, Oloan Hutagalung, menceritakan kengerian yang terjadi.

"Awalnya, di malam yang tenang hari Selasa 25 November dinihari, sekitar pukul 01:00 WIB, longsor datang dari belakang rumahnya. Dua jam kemudian, longsor yang jauh lebih besar menyusul hingga meratakan perkampungan mereka," cerita Oloan.

Total 27 rumah warga hilang terbawa banjir dan longsor, membuat hampir satu kampung lenyap total.

Tangisan Elisabet di Tengah Puing kala Kursi Roda Sang Ayah Ditemukan

Drama pencarian menyentuh hati.

Di antara keramaian tim penyelamat, tampak Elisabet Hutabarat (20) duduk termangu di atas batu bekas longsor.

Tatapannya kosong, mengamati anjing pelacak dan personel yang sedang menggali gundukan tanah di lokasi yang dulunya adalah permukiman.

Ia terus mengawasi dengan harap-harap cemas.

Tiba-tiba, teriakan petugas memecah keheningan.

“Kursi roda, kursi roda!” teriak seorang petugas Tim SAR.

Seketika, Elisabet yang semula duduk langsung berdiri dan mendekat.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved