Banjir dan Longsor di Tapteng

Kisah Fitri Cari Orangtuanya yang Jadi Korban Bencana Alam di Tapteng, Ditemukan Tewas Berpelukan

Desa Bair satu diantara desa dari 14 Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah  yang terdampak banjir dan longsor pada Selasa (25/12/2025) lalu.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
KORBAN BANJIR - Fitriyawanti Silalahi (34)satu diantara keluarga Korban bencana banjir dan longsor di Desa Bair Lingkungan 1 Kecamatan Tapian Nauli Kabupaten Tapteng. Kedua orangtuanya meninggal dan ditemukan dalam keadaann berpelukan 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Dari kejauhan terlihat seorang  perempuan mengenakan pakaian kaos berwarna pink  mendatangi lokasi bencana  di Desa Bair Dusun Satu Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Senin (8/12/2025).

Desa Bair satu diantara desa dari 14 Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah  yang terdampak banjir dan longsor pada Selasa (25/12/2025) lalu.

Pantauan Tribun Medan, perempuan itu pun langsung  duduk di pondok kecil di area lokasi pencarian mayat  yang sedang dilakukan oleh petugas gabungan seperti polisi, Timsar dan lain-lain.

Berkali-kali ia mencoba menenangkan beberapa ibu-ibu yang sedang menunggu pencarian keluarganya yang hilang tertimbun akibat longsor dan banjir. 

Saat didekati Tribun Medan,  perempuan itu bernama, Fitriyawanti Silalahi (34).  Diceritakannya ia pun kehilangan kedua orang tuanya akibat bencana banjir dan longsor. 

Fitri mengatakan, orang tuanya berhasil ditemukan dua hari lalu di lokasi Tim Sar mencari korban hilang saat ini. 

Fitri bercerita, orang tuanya kemungkinan sempat berpelukan sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu. Sebab, lokasi ditemukannya mayat sang ibu dengan bapaknya cukup dekat dan tidak berjauhan.

"Aku sudah tiga hari ke atas ini, Hari kedua, orangtua kami ketemu. Memang hari itu, aku udah ada feeling orang tua bakal ketemu. Waktu dinyatakan sudah ketemu mamakku ditelungkupin pake sarung. Mungkin saat itu  mereka (orangtuanya) berlindung atau kediginan makanya pake sarung,"ucapnya mengawali cerita. 

Namun selang 15 menit, mayat sang ibu dapat, jenazah sang ayah pun juga langsung ditemukan.

"Waktu angkat mamak, keliatan ada kaki. Kita pikir itu bapak. Dan ternyata benar. Mungkin sebelumnya berpelukan karena goncangan segala macam  jadi lepas. Mungkin badannya berdempet," ujarnya.
Saat mendengar orang tuanya ditemukan, ia pun berlari dari Gereja yang lokasi menuju area bencana cukup jauh dan  harus melewati tanjankan.

"Posisi aku belum sampai atas, karena jalankan nanjak. Tapi begitu dengar aku dipanggil dari bawah jadi aku lari ke sini. Karena mereka nanya, posisi baju mamak hari kejadian warna apa," jelasnya.

Namun, karena itu orang yang melahirkannya, baru kelihatan punggung saja, ia sudah tanda bahwa itu adalah ibunya. 

"Akhirnya setelah kelihatan punggungnya dan paha aku lari ke sini. Aku sebut juga waktu itu mamakku pake baju warna orange ternyata benar mamakku," jelasnya. 

Namun saat itu, hanya dikasih jeda 15 menit untuk melihat sang ibu. Dengan posisi setengah badan diletakkan di kantong jenazah.

"Hanya lihat sebentar sebagai tanda itu mamak kami. Habis itu kami gak bisa pegang lagi. Dan jenazah diturunkan ditempat pengungsian," jelasnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved