Banjir dan Longsor di Tapteng

Banjir di Hutanabolon Tapteng Datang Seperti Tsunami, Juwita: Parahlah, Gak Terbayangkan

Diketahui, Babinsa Kecamatan Tukka, Koptu Holmes Padang mengatakan, di Kelurahan Hutanabolon sebanyak 20 orang meninggal dunia.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Warga di Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka, Minggu (7/12/2025). Juwita satu diantara korban banjir yang rumahnya hanyut tak tersisa. 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Juwita (32) hanya bisa menarik nafas panjang saat mengenang kejadian banjir dan longsor yang menimpa Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka pada Selasa (25/11/2025) lalu. 

Berkali-kali tatapan matanya seperti kosong saat menceritakan kejadian banjir yang membuat rumahnya hanyut dan mata pencariannya hilang dalam waktu setengah jam. 

Secara perlahan, Juwita menceritakan  kronologi air banjir itu menghantam Kelurahannya.

Berawal dari hujan lalu, air sungai meluap dan tiba-tiba dari kejauhan air sungai itu tiba-tiba datang bersamaan dengan kayu-kayu besar. 

Juwita (32) saat ditemui di Kelurahan Hutanabolon Kecamatan
Juwita (32) saat ditemui di Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka, Minggu (7/12/2025). Juwita satu diantara korban banjir yang rumahnya hanyut tak tersisa.

Syukurnya, kata Juwita ia beserta keluarganya berhasil lari ke hutan untuk menyelamatkan diri sementara waktu.

"Parahlah enggak terbayangkan lagi karena ini dua kali kena ini (banjirnya). Pertama masih bisa dilewatilah enggak sampai kekgini parahnya.

Setelah setengah jam kemudian datang air besar dari sana (atas) kami berlari dan bertahan di atas  gunung dan hutan karena airnya sudah setinggi kepala saya adalah mungkin. Besar kali airnya kayak tsunamilah," katanya saat ditemui Tribun Medan,Minggu (7/12/2025).

Tidak ada yang bisa diselamatkan, harta benda semua habis tak tersisa. Hanya ada baju di badan. Sawah miliknya yang tinggal panen ludes terendam banjir.

"Karena hujan mulai reda, pukul 18.00 WIB kami pun turun dari gunung untuk mencari pertolongan dan makanan. Akhirnya kami lihat ada masjid yang enggak kena banjir ke sanalah kami nerjang banjir ke masjid itu," jelasnya.

Ia pun bertahan di Masjid itu bersama keluarganya hingga hari ini. Untuk mengisi perut, mereka harus berjalan 2 KM karena ada posko bantuan umum di sana.

"Makan seadanya, ada ubi yang masih bisa kami makan. Air minum kami ambil dari air banjir yang kotor inilah kami saring. Kami ke posko kalau mau ambil makan aja, selebihnya kami di Masjid ini.

Karena di Posko pun sudah ramai kali dan harus pasang tenda dari kayu-kayu itu sendiri,"ucapnya.

Disinggung perayaan natal, Juwita mengaku semua sudah dipersiapkan.

Bahkan pernak pernik natal seperti pohon natal sudah dipasang sebagian di rumahnya. 

"Kekmanalah sedihlah kalau dibilang. Sudah banyak dirancang tentang perayaan Natal. Baju anak-anak juga sudah dibeli. Tapi hanyutlah semua. Kek ginilah dulu. Berlalunya itu semua. Apalagi mau dibilang," katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved