Banjir dan Longsor Tapteng

10 Jam Joni dan Andre Berjalan Kaki ke Pandan Ambil Obat-obatan untuk Dibawa ke Hutanabolon

Joni dan Andre nekat berjalan kaki selama 10 jam pulang pergi dari utanabolon menuju Pandan melewati Kecamatan Tukka untuk mengambil obat-obatan

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
BERJALAN 10 JAM - Tima Hutagalung, satu diantara bidan di Kecamatan Pandan Kabupaten Tapteng. Tima bercerita ada dua rekannya datang meminta obat untuk anaknya dan warga Hutanabolon dengan berjalan kaki selama 10 jam. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN -  Joni dan Andre nekat berjalan kaki selama 10 jam pulang pergi dari Desa Hutanabolon menuju Pandan melewati Kecamatan Tukka untuk mengambil obat-obatan ke salah satu bidan sekaligus ASN Dinkes Kabupaten Tapanuli Tengah.

Ia bersama rekannya tersebut berjalan setelah satu hari  kejadian banjir bandang dan longsor terjadi di sekitar rumahnya. 

Joni tetap nekat ambil obat-obatan ke Pandan dengan berjalan kaki itu, bukan hanya sekadar untuk membantu masyarakat lain yang terkena sakit pasca musibah banjir bandang. Melainkan, anaknya saat itu juga sedang mengalami sakit  yang harus cepat diberikan obat-obatan. 

"Dua rekan saya datang ke rumah kami di Pandan, untuk mengambil obat-obatan untuk anaknya dan warga sana dengan berjalan kaki dari daerah utama bencana Desa Hutanabolon menuju Kecamatan  Tukka baru ke Pandan selama 10 jam pulang pergi  belum ada  kabarnya hingga hari ini," ucap Tima Hutagalung satu di antara bidan yang tinggal di Komplek BTN Kabupaten Tapanuli Tengah,  Rabu (3/12/2025). 

Tima menerangkan, saat itu, keadaan kaki  dua rekannya juga cedera. Karena terkena kayu-kayu untuk menerobos jalan menuju Tukka.

"Titik banjir awal mulanya itu dari Sungai Hutanabolon. Di sana itu ada sungai yang memang akses jalannya lewat Tukka. Tapi tiba-tiba air sungai itu meluap bukan hanya air tapi gelondongan kayu-kayu dari atas sungai itu. Akhirnya pasca banjir jalan itu masih bisa dilalui sedikit katanya tapi itulah kaki mereka sudah luka berdarah ada yang koyak dan bengkak saya lihat,"katanya. 

Dikatakan warga asli Kabupaten Tapteng ini,  ia sempat bertanya kenapa nekat sekali jalan dalam keadaan kaki seperti itu. 

"Tapi dua rekannnya bilang banyak warga Kecamatan Hutanabolon yang mengalami luka-luka. Termasuk anaknya yang butuh obat. Tapi saya tidak bisa bilang sakit apa anaknya. Yang jelas dia butuh obat-obatan," ucapnya.

Dua rekannya itu cerita, kemungkinan, akses jalan ke Tukka itu bakal terisolir. Karena longsor dan banjir terjadi bersamaan.

"Mereka udah bilang kalau besok udah gak bisa lewat lagi dengan jalan kaki itu. Makanya mereka ke rumah saya di hari kedua setelah bencana. Dan betul besoknya Kecamatan Tukka terisolir dan sampai hari ini belum ada kabar dari mereka semua. Nomornya tidak ada yang aktif sampai sekarang,"jelasnya.  

Sebelum pulang, Rasida pun mengaku mengobati luka luka kaki kedua rekananya terlebih dahulu dan membekalinya berbagai macam obat darurat.

"Setelah diobati mereka memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki kembali. Tapi saya bekali makanan apa yang saya punya. Sama obat-obatan untuk warga  yang sama mereka seperti  obat mencret, demam, gatal-gatal dan batuk," jelasnya 

Rasida juga menjelaskan, alamat dari Hutanabolon menuju  Kecamatan Tukka  juga cukup jauh. Posisinya ada di atas Kecamatan itu.

"Jadi itu juga tempat wisata pemandian sungai. Warga Tapteng kalau mau mandi sungai ya ke situ.  Jaraknya kalau naik motor Pandan-Tukka-Hutanabolon ada 1,5 jam," ucapnya.

Diakui Tima, banjir  secara-besar-besaran pertama kali terjadi di Tapteng tahun ini.  Bahkan untuk beberapa area yang tidak pernah banjir jadi banjir. Seperti di komplek perumahan mereka. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved