Banjir dan Longsor Tapteng

Keluarga Rosma Zebua Terjebak di Hutan Hutanabolon, Cuma Makan Nangka Muda dan Minum Air Hujan

Kisah penyelamatan ini bukan datang dari bantuan resmi, melainkan dari aksi heroik dan nekat sang adik yang mempertaruhkan nyawa demi keluarga.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
VIRAL DI MEDSOS - Viral di sosial media video sejumlah korban bencana alam di Tapteng terlihat sedang berada di pertengahan hutan viral. 

TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Keluarga Rosmawati Zebua akhirnya bisa bernapas lega setelah berhari-hari dihantui kecemasan.

Mereka mendapat kabar bahwa ibu, keponakan yang masih bayi, dan anggota keluarga lain selamat setelah terjebak di tengah hutan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, akibat terjangan banjir bandang dan longsor pada Selasa (26/11/2025).

Kisah penyelamatan ini bukan datang dari bantuan resmi, melainkan dari aksi heroik dan nekat sang adik yang mempertaruhkan nyawa demi keluarga.

Sekadar diketahui, video keluarga Rosmamati yang terjebak di tengah hutan sempat viral di media sosial di tengah bencana banjir dan longsor di Tapanuli tengah.

Terjebak di Hutan, Bertahan Hidup dengan Nangka Muda

Selama dua hari, keluarga ini terperangkap di lokasi yang terisolir, jauh dari jangkauan.

Sebuah video viral sebelumnya sempat menunjukkan kepanikan warga yang terjebak di sana, berteriak meminta tolong kepada Bupati.

"Pak bupati tolong kami dulu di sini. Kami sudah di tengah hutan ini. Kiri kanan sudah longsor... Ada sekitar 50 orang ini."

Rosmawati Zebua menceritakan kondisi mengerikan yang dialami keluarganya.

Selama 24 jam pertama, mereka tidak makan sama sekali, hanya mengandalkan air hujan untuk minum.

"Makan nangka muda katanya, sebiji kelereng (besarnya) mereka panggang, itulah yang mereka makan," ungkap Rosmawati, menceritakan bagaimana keluarganya bisa bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan.

Aksi Nekat Berenang demi Bayi dan Jaringan Ponsel

Titik balik datang pada hari ketiga (Kamis, 28/11/2025).

Sang adik, seorang pria berusia 25 tahun, mengambil keputusan yang berani dan penuh risiko.

Tanpa menunggu bantuan pemerintah atau BPBD, ia nekat berenang menyeberangi sungai yang masih berarus deras akibat banjir.

Tujuan utamanya, mencari makanan untuk ibu dan keponakannya yang masih bayi, serta mencari sinyal jaringan untuk mengabari Rosmawati.

"Memang belum surut, tapi dia nyobain saja, karena nggak ada sama sekali yang tahu keadaan mereka di sana kan. Apalagi ada ponakan saya yang masih bayi dan ibu saya," ujar Rosmawati, menirukan keberanian adiknya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved