Breaking News

Banjir dan Longsor Tapteng

Tangis Yustina Pecah Karena Sudah Dua Minggu Tak Bisa ke Gereja: Baju Habis, Rumah Hancur

Yustina, Korban Longsor menangis karena sudah dua minggu tak bisa ke gereja, ngaku baju habis hingga rumah hancur.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Tria Rizki

Menangis Karena Sudah Dua Minggu Tak Bisa ke Gereja, Yustina :  Baju Habis, Rumah Hancur Karena Longsor 

TRIBUN-MEDAN-COM,MEDAN - Perempuan berdaster merah yang tinggal di Jalan Perjuangan, Kelurahan Aek Parombunan, Sibolga Selatan terlihat perlahan-lahan membersihkan rumahnya dari lumpur dan longsor yang menghantam rumahnya pada Selasa,  (25/11/2025).  

Berkali-kali  ia membenarkan foto keluarga dan salib  yang sudah miring dan retak di area ruang tamu yang masih dipenuhi lumpur.

Sementara sang suami sibuk membenarkan area dapur karena dinding dapur mereka jebol akibat longsor dan banjir yang menimpa rumah mereka.

Saat Tribun Medan masuk ke rumahnya langsung terdapat area kamar. Namun kamar itu dipenuhi lumpur setinggi setengah meter dan jendela kaca yang sudah hilang akibat longsor tersebut. 

Bagaimana tidak, area  longsor itu berada persisi di depan rumahnya. Hanya saja, rumahnya tetap tegak dan tidak tumbang karena longsor menghantam rumah tetangga yang berada di depan rumahnya. 

Saat didekati, ibu rumah tangga ini bernama Yustina Jay (45). Dengan nada bergetar dan menangis, Tina mengatakan sudah dua minggu tak bisa ke gereja karena tidak memiliki baju. 

"Memang  sedih kali sudah dua minggu gak bisa ke gereja karena kami ga ada barang pakaian dapur udah hancur  semua. memang rumah berdiri,  tapi peralatan semua gak ada  lagi. Itulah jadi gimanalah," ucapnya sambil menangis.

Padahal, sudah mulai mendekati  Hari Natal dan Tahun Baru. Tak banyak yang ia bisa buat untuk menyambut Natal tahun ini.

"Kini kami sambut natal dengan suka cita. Karena puji tuhan masih dikasih selamat dan sehat," katanya. 

Diceritakannya, ia bersama suami sudah membangun rumah ini dengan hasil kerja keras. Namun, kini harus kembali mengulang pembangunan  dari awal.
 
"Rumah ini sudah ada sertifikatnya kami beli dengan hasil kerja keras kami. Tapi apalagi yang mau dibilang. Kalau Tuhan sudah berencana seperti ini," ucapnya.

Diakuinya, ada rasa trauma mendalam jika kembali ke rumahnya dalam keadaan hancur seperti ini.

"Kalau di posko kita gak gimana-mana. Tapi kalau sudah lihat rumah ini ke sini kami trauma rasanya sedih kali. Tetangga hilang. Kami gak bisa apa-apa. Syukur masih ada posko jadi asal malam kami kembali ke posko. Karena kata Babinsa dan Kepling kami jangan pulang dulu di malam hari,"tuturnya.

Untuk itu, ia memohon sama pemerintah agar   ada bantuan pembangunan rumah untuk korban bencana longsor dan banjir.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved