Berita Medan

Nyawa Melayang Diduga Karena Buah Matoa, Ayah Korban Minta Pelaku Dihukum

Menurut Zulkarnain, anaknya bersama seorang teman diduga masuk ke pekarangan rumah milik warga Tionghoa untuk mengambil buah matoa. 

TRIBUN MEDAN/Haikal Faried Hermawan
PENGANIAYAAN- Zulkarnain (56), seorang ayah di Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, menceritakan kehilangan anak pertamanya, Dodi Muhammad (30). Diduga dianiaya hingga tewas mengenaskan dengan kondisinya kedua tangan diikat. Selasa (7/4/2026) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Zulkarnain (56), warga Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, harus menerima kenyataan pahit kehilangan anak pertamanya, Dodi Muhammad (30), dalam kondisi memilukan.

Dodi diduga tewas setelah dianiaya oleh pemilik rumah dan sekelompok orang, usai dituduh mencuri buah matoa di Jalan Nahkoda Sulaiman, Lingkungan V, pada Senin (6/4/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.

"Hanya gara-gara buah sampai menghilangkan nyawa anak saya," ujar Zulkarnain dengan suara terisak saat ditemui di kediamannya, Selasa (7/4/2026).

Menurut Zulkarnain, anaknya saat itu bersama seorang temannya diduga masuk ke pekarangan rumah milik warga untuk mengambil buah matoa. Namun, aksi tersebut diketahui pemilik rumah, hingga Dodi langsung disekap di lokasi.

Ia mengaku baru mengetahui kejadian itu dari tetangga. Mendapat kabar tersebut, Zulkarnain bersama keluarga langsung menuju kantor polisi untuk mencari keberadaan anaknya.

"Saat dikasih kabar, kami langsung ke kantor polisi. Kejadian ini tidak saya inginkan, hanya gara-gara mengambil buah sampai disiksa hingga meninggal dunia," tuturnya.

Keluarga kemudian diarahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara II Medan untuk mengambil jenazah Dodi yang saat itu sudah menjalani proses autopsi.

"Saya lihat anak saya sudah diotopsi. Sebagai orang tua, saya tidak sanggup melihat kondisi anak saya seperti itu," ungkapnya.

Zulkarnain menggambarkan kondisi tubuh anaknya yang penuh luka. Ia menyebut terdapat pendarahan di hidung dan mulut, serta luka di bagian badan, tangan, dan kaki. Luka paling parah disebut berada di bagian kepala yang membiru.

"Waktu saya tengok, hidung dan mulutnya berdarah. Badan, tangan, kaki luka-luka. Yang paling parah di kepala sampai biru," ujarnya.

Ia juga menyesalkan tindakan para pelaku yang disebut mengikat anaknya di lokasi kejadian sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit tanpa pemberitahuan kepada keluarga.

"Kalau pun ada rasa kemanusiaan, bawalah ke kantor polisi, jangan disiksa seperti itu. Kalau disiksa, itu namanya penganiayaan," katanya.

Zulkarnain berharap pihak kepolisian segera memproses kasus tersebut secara hukum.
"Kami sebagai orang tua tidak terima. Anak saya diperlakukan seperti binatang, tidak ada rasa kemanusiaan. Kami minta pelaku diproses sesuai hukum," tegasnya.

Ia menambahkan, dirinya dan anaknya sehari-hari bekerja sebagai sopir truk. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti jenis buah yang diduga dicuri oleh anaknya.

"Saya dan anak saya kerja sebagai sopir. Saya juga tidak tahu pasti buah apa yang diambil," ucapnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved