Banjir dan Longsor di Sumut

Terungkap Asal Kayu-kayu di Banjir Bandang Batangtoru, Tanpa Kulit Bekas Dijamah Manusia

Terungkap asal kayu-kayu besar yang hanyut terbawa banjir bandang di Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel).

|
TRIBUN MEDAN/Azis Husein Hasibuan
BANJIR BANDANG - Banjir bandang di Batangtoru, Tapanuli Selatan, Selasa (25/11/2025). Ada tiga desa diterjang banjir bandang di lokasi, Huta Godang, Garoga dan Aek Ngado. 

TRIBUN-MEDAN.com, BATANGTORU - Terungkap asal kayu-kayu besar yang hanyut terbawa banjir bandang di Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel).

Banjir bandang di perbatasan Batangtoru dengan Tapanuli Tengah (Tapteng), menghantam tiga desa. 
Masing-masing Aek Ngadol, Huta Godang dan Garoga. Banjir bandang paling terparah dan banyak makan korban terjadi di Garoga.
Sementara di Huta Godang juga termasuk parah. Rekaman yang viral di media sosial, kondisi Huta Godang memperlihatkan banjir bandang menghantam rumah- rumah warga.
Saling berpegangan tangan
Dari beberapa pengakuan korban selamat yang diwawancarai menyatakan, para warga saling berpegangan tangan saat banjir bandang terjadi. 
Saat itu mereka sedang berusaha menyelamatkan diri dengan keluar dari rumah. Situasi air sangat deras. 
Di kondisi ini, mereka semakin menguatkan pegangan tangan.
"Kami keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri karena air sudah sangat deras. Kami sama-sama saling pegangan tangan," ujar Risna kepada Tribun Medan, Rabu (27/11/2025) kemarin.
Risna merupakan warga Garoga. Ia datang bersama putrinya ke Puskesmas Batangtoru. Tujuannya untuk mencari cucunya yang hilang.
Puskesmas Batangtoru merupakan tempat evakuasi korban kondisi selamat dan luka. Ada juga korban meninggal dunia disimpan di sini.
Dari data terbaru, sebanyak 18 jasad korban meninggal banjir bandang. 10 di antaranya sudah diambil pihak keluarga dari Puskemas Batangtoru.
Terlepas karena kayu
Risna kemudian melanjutkan ceritanya. Saling pegangan tangan dianggap merupakan cara terbaik menyelamatkan diri saat banjir bandang.
Namun petaka mulai terjadi. Mereka memang bisa bertahan dari arus banjir bandang. Tapi tangannya terlepas karena saat itu kayu-kayu besar mulai berdatangan dari hulu.
Cucu Risna terlepas dari genggamannya. Itu terjadi saat mereka di berada di bagian pinggir rumah berusaha menyelamatkan diri.
"Cucuku masih lima tahun. Tolonglah bantu cari. Masih kupegangnya waktu banjir, tapi lepas karena kayu besar datang," katanya.
Di puskesmas, Risna menangis-menangis. Begitu juga putrinya. 
Ia kemudian pergi ke petugas untuk memberi tahu identitas cucunya yang hilang terbawa banjir.
"Ya Allah, masih kupegangnya cucuku itu waktu banjir. Gak bisa kutahan lagi karena kayu-kayu itu. Lepas dari tanganku. Tolonglah kami, bu," ucap Risna.
Selama 10 menit Risna berada di puskemas. Ia mencari setiap ruangan, tempat para korban selamat. Berharap bisa menemukan cucunya.
Begitu juga dengan melihat wajah jasad korban tewas. Satu per satu ia buka, tapi hasilnya nihil.
Setelah itu, Risna memutuskan pergi. Ia pulang bersama putrinya dengan mata yang masih sembab menggunakan becak.
Asal kayu-kayu banjir bandang
Asal kayu-kayu yang tebawa hanyut saat banjir bandang di Batangtoru mulai terungkap.
Ini berdasar dari pengakuan Silalahi, warga Huta Godang kepada  Tribun Medan. Ia baru saja datang bersama istrinya di Puskemas Batangtoru.
Ia awalnya bercerita kondisi sungai di Huta Godang. Di wilayah ini terdapat tiga sungai yang pertemuan air di Sungai Garoga.
"Ada tiga sungai, termasuk Huta Godang. Ketiganya bermuara atau bertemu di Sungai Garoga. Ya, itulah jembatan perbatasan," ucap Silalahi memulai ceritanya.
Saat banjir bandang terjadi telihat ratusan kayu terbawa banjir. Kayu-kayu ini melintasi tiga sungai, termasuk Huta Godang. Itu juga terlihat di sungai pertemuan, Garoga.
Dilihat dari kondisinya, ratusan kayu ini seperti bekas atau sudah dijamah manusia. Kulitnya sudah tidak ada lagi. Warnanya memutih kekuningan.
Dari pengakuan Silalahi, kayu-kayu ini bisa dibilang tak layak pakai dan sengaja dibiarkan begitu saja usai ditebang.
"Kayu-kayu inilah yang memang terbawa saat banjir bandang. Kondisinya bukan seperti bekas rubuh karena longsor, tapi sudah tidak ada kulitnya lagi," ucapnya.
Silalahi kemudian membongkar asal-asal kayu bekas jamahan manusia ini. Menurutnya, ada aktivitas penebangan hutan di hulu sungai.
"Nama desanya Aek Bangir. Kayu-kayu ini sengaja ditebang. Yang bagus diangkut pakai mobil. Sedangkan yang tak layak dibiarkan begitu saja," katanya.
Dari informasi yang dihimpun Tribun Medan, ada sebuah perusahaan yang baru saja membuka lahan.
Lokasinya di Sibabangun, Tapteng, di dekat sebuah PT yang begerak di bidang kelapa sawit.
"PT baru ini. Merekalah yang menebangi pohon di hulu sungai sana. Sudah sepantasnya mereka yang bertanggung jawab. Kayu-kayu banjir bandang ini atas ulah mereka," pungkasnya.
(ase/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved