Banjir dan Longsor di Sumut

Istri Hamil Tewas Tertimbun Longsor di Sibolga, Air Mata Amin Situmeang Kering Ditinggal Calon Janin

Tragedi longsor yang melanda Sibolga pada Selasa (25/11/2025) menyisakan kepedihan mendalam bagi Amin Rais Situmeang

Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso
KORBAN LONGSOR - Amin Rais Situmeang (30) ketika diwawancarai mengenai istrinya yang sedang hamil 7 bulan meninggal dunia akibat longsor di rumah mereka, di Jalan Perjuangan, Kelurahan Aek Parombunan, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga, Kamis (11/12/2025). Ia menyebut sebelum kejadian, istrinya meminta agar Amin membawa pergi kedua anaknya. 

TRIBUN-MEDAN.com, SIBOLGA - Tragedi longsor yang melanda Sibolga pada Selasa (25/11/2025) menyisakan kepedihan mendalam bagi Amin Rais Situmeang (30).

Ia harus kehilangan belahan jiwanya, Ervina Nola Kristina Hutabarat (23), yang tewas seketika tertimbun tanah longsor di rumah mereka di Jalan Perjuangan, Aek Parombunan.

Yang membuat hati teriris, Ervina meninggal dalam kondisi mengandung 7 bulan, membawa serta calon anak ketiga mereka.

Keputusan Sekejap yang Berujung Maut

Amin Rais, seorang ayah berpostur tinggi, kini tak kuasa lagi menangis.

Ia harus berpura-pura tegar di hadapan dua anaknya yang masih kecil, Novita Sari (4) dan Gifano (2), yang belum tahu bahwa sang ibu telah tiada.

Mengenang hari nahas itu, Amin bercerita bahwa longsor datang setelah serangkaian keputusan cepat yang dilakukan Ervina.

Saat hujan deras melanda siang hari, Ervina, yang sedang hamil besar, memandikan kedua anaknya.

Setelah itu, ia meminta Amin membawa kedua anak mereka turun ke rumah mertua mereka yang berada di bawah, dekat jalan raya.

“Setelah makan, anak kami dimandiin istri dan kemudian saya turunkan ke bawah, rumah orang tua saya satu persatu. Setelah ku turunkan yang terakhir, dan belum sempat istri saya ikut turun, sudah longsor menimpa rumah dan dia,” kata Amin lirih, Kamis (12/12/2025).

Di bawah, setelah menurunkan anak terakhir, suara gemuruh keras terdengar.

Amin terperangah melihat ke atas.

Betapa tidak, rumah mereka telah tertimbun tanah.

Ervina, sang istri tercinta, tertimbun di bawah reruntuhan bangunan, saat ia baru menginjak tangga pertama hendak menyusul suami dan anak-anaknya.

Amin seketika mematung; kakinya tak bisa bergerak, dan mulutnya tak mampu berteriak, menyaksikan istrinya tewas bersama bayi yang dikandungnya.

Pesan Terakhir yang Jadi Kenyataan Pilu

Sebelum meninggal dunia, Ervina hampir setiap hari menyampaikan pesan yang kini menghantui Amin.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved