Nilai Tukar Rupiah

Minta Gubernur BI Perry Mengundurkan Diri, Anggota DPR Primus: Ini Gentleman, Bukan Penghinaan

Nilai tukar rupiah makin loyo pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) sore, di level Rp 17.668 per dolar AS.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Tribunnews.com
RAKER DPR - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kedua kiri), Deputi Gubernur Ricky P Gozali (kiri) Deputi Gubernur Aida S. Budiman (kedua kanan) dan Deputi Gubernur Thomas AM Djiwandono (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) 

TRIBUN-MEDAN.com - Nilai tukar rupiah makin loyo pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) sore.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah pada level Rp 17.668 per dolar AS. Sedangkan data pasar spot, rupiah berada di kisaran Rp 17.680. 

Posisi tersebut sekaligus menjadi level penutupan rupiah terlemah sepanjang sejarah. 

Segendang sepenarian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup anjlok pada perdagangan Senin (18/5/2026). 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 1,85 persen atau turun 124,08 poin ke level 6.599,24.

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.398,79 hingga 6.631,28. Sebanyak 616 saham ditutup melemah, 125 saham menguat, dan 79 saham stagnan. Kapitalisasi pasar juga turun menjadi Rp 11.539 triliun. 

Dorong Gubernur BI Mengundurkan Diri

Pelemahan rupiah yang terus terjadi mendapat atensi dari DPR RI. 

Dalam rapat kerja DPR RI dengan Bank Indonesia (BI), Senin (18/5/2026), dorongan agar Gubernur BI Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri mulai disuarakan.

Adalah anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio yang secara lugas meminta Perry untuk mundur dari jabatannya, setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang makin loyo.

Baca juga: GUBERNUR BI Perry Warjiyo Kena Semprot di DPR RI, Diminta Jangan Takut Ungkap Penyebab Rupiah Lemah

Mulanya, Primus menyoroti anomali kondisi ekonomi Indonesia yang disebut mengalami pertumbuhan 5,61 persen akan tetapi nilai tukar rupiah terus anjlok.

"Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar," kata Primus dalam ruang rapat, Senin.

Tak hanya terhadap nilai tukar rupiah, Primus juga menyoroti makin merosotnya nilai IHSG di Indonesia.

Dia mengatakan, di saat seluruh negara sudah kembali rebound imbas perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, Indonesia justru mengalami minus.

"Indeks kita juga habis Pak, merosot turun, di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus, dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen," ucap dia.

Atas kondisi ini, politikus PAN tersebut menyatakan kalau sejatinya dunia internasional telah menyoroti kinerja dari BI yang merupakan bank sentral di Indonesia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved