Nilai Tukar Rupiah

Sejumlah Komoditas Terancam Naik Harga Imbas Rupiah yang Makin Loyo, Rekor Rp 17.600 per Dollar AS

Pelemahan nilai tukar rupiah mulai memicu ancaman kenaikan harga kebutuhan pokok, mulai dari tahu, tempe, hingga mi instan. 

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Thinkstock
Ilustrasi uang rupiah dan dollar AS. Nilai tukar rupiah kembali melemah dan mencatat sejarah baru tembus Rp 17.600 per dollar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi. 

TRIBUN-MEDAN.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah dan mencatat sejarah baru tembus Rp 17.600 per dollar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi.

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai mulai memicu ancaman kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari tahu, tempe, hingga mi instan. 

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, dampak pelemahan rupiah paling terasa pada komoditas pangan yang masih bergantung pada bahan baku impor seperti gandum dan kedelai. 

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku impor sudah mulai terjadi di tingkat produsen sejak akhir April 2026 dan berpotensi diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan. 

“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik,” ujar Rahma, Jumat (15/5/2026) dilansir Kompas.com. 

Rahma menjelaskan, kenaikan harga tahu dan tempe akan sangat dirasakan kelompok masyarakat bawah karena kedua produk tersebut menjadi sumber protein utama dengan harga paling terjangkau. 

Sementara bagi kelas menengah, tekanan lebih terasa pada kenaikan harga makanan olahan dan biaya makan di luar rumah. 

Tak hanya pangan, tekanan juga mulai muncul dari sisi energi dan transportasi setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan. 

Baca juga: Panglima Geng Motor di Medan Diciduk, Jadi Kurir Jaringan Pengedar Pod Getar

Rahma menyoroti harga Dexlite yang kini mencapai Rp 26.000 per liter dan Pertamina Dex sekitar Rp 27.900 per liter. Kondisi ini berdampak langsung pada ongkos logistik dan distribusi barang. 

“Kenaikan harga BBM nonsubsidi meningkatkan ongkos angkut barang dari pelabuhan ke pasar. Akibatnya harga sayur-mayur lokal pun bisa naik meski bukan barang impor,” katanya. 

Menurut Guru Besar Universitas Airlangga ini, dampak tersebut bersifat berantai karena kenaikan biaya transportasi akan diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen. 

Rahma mengingatkan masyarakat kelas bawah juga berpotensi terkena tekanan tambahan dari naiknya biaya operasional angkutan umum dan ojek online akibat mahalnya suku cadang kendaraan yang mayoritas masih impor. 

Risiko Penyesuaian Harga BBM Subsidi 

Ia menilai situasi menjadi semakin sensitif karena pemerintah saat ini masih menahan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar di tengah pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia. 

Namun, jika rupiah terus melemah mendekati Rp 18.000 per dollar AS, risiko penyesuaian harga BBM subsidi akan semakin besar. 

“Kalau kurs tidak segera kembali ke bawah Rp 17.000, daya beli masyarakat akan tergerus oleh inflasi,” ujar Rahma. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved