Nilai Tukar Rupiah

REKOR Rupiah Anjlok Rp17.529 per Dollar AS, Respons BI: Kami Berkomitmen Terus Hadir di Pasar

Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), kembali memecahkan rekor.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Thinkstock
Ilustrasi. Pada penutupan perdagangan di pasar spot, Selasa (12/5/2026), berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dollar AS. 

TRIBUN-MEDAN.com - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), kembali memecahkan rekor.

Pada penutupan perdagangan di pasar spot, Selasa (12/5/2026), berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dollar AS.

Posisi ini merupakan level terendah penutupan kurs rupiah terhadap dollar AS sepanjang sejarah alias all time low (ATL). 

Ketua DPR Puan Maharani mengatakan akan memanggil pemerintah dan Bank Indonesia terkait perkembangan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku siap memenuhi panggilan DPR.

Meski demikian, Purbaya menegaskan urusan stabilitas nilai rupiah sepenuhnya berada di bawah kewenangan BI, bukan Kementerian Keuangan. 

“Kalau rupiah itu urusan bank sentral, bukan urusan Kementerian Keuangan,” ujar Purbaya di Kementerian Keuangan pada Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Data BPS Jumlah Pengangguran 7,24 Juta Orang, Kategori Bekerja Ada Aktivitas 1 Jam dalam Seminggu

Respons Bank Indonesia

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah meningkat seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan peningkatan ketidakpastian global. 

"Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat," ujar Destry, Selasa. 

Tidak hanya itu dari faktor domestik juga turut menekan rupiah. 

BI mencatat meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman menambah tekanan di pasar. 

Destry mengungkapkan, peningkatan permintaan dollar AS antara lain berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen korporasi, hingga kebutuhan masyarakat untuk ibadah haji. 

"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman," kata Destry. 

Ia berujar, BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah

Menurut Destry, hingga saat ini bank sentral terus melakukan intervensi secara terukur melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF), dan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved