Citizen Reporter

Xiangfei dari Kashgar dan Jejak Islam Kara Khanid di Xinjiang

Xiangfei lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan religius Muslim yang memiliki pengaruh besar di Xinjiang Selatan. 

Tayang:
Editor: Ayu Prasandi
IST
RUMAH PENINGGALAN - Berfoto bersama patung di rumah peninggalan Xiangfei atau Permaisuri Wangi di Kota Kashgar, Provinsi Xianjiang, Tiongkok, Rabu (13/05/2026). 

Muhammad Riduan Harahap, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

TRIBUN-MEDAN.com- Di tengah lorong-lorong Kota Tua Kashgar yang masih dipenuhi nuansa Turkestan Islam, nama Xiangfei tetap hidup dalam ingatan masyarakat Xinjiang. Dalam sejarah Dinasti Qing, ia dikenal sebagai Rongfei, seorang selir Kaisar Qianlong Emperor yang berasal dari keluarga Muslim Uyghur di wilayah Yarkant, dekat Kashgar.

Tokoh yang dalam legenda rakyat Tiongkok disebut “Xiangfei” atau “Permaisuri Wangi” ini diyakini lahir pada 1734 dari keluarga Hoja (Khoja).

Xiangfei lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan religius Muslim yang memiliki pengaruh besar di Xinjiang Selatan. 

Banyak penelitian sejarah menyebut nama Uyghurnya kemungkinan adalah “Iparhan” atau “Ipärhan”, meskipun nama tersebut tidak ditemukan secara langsung dalam arsip resmi Dinasti Qing.

Kisah Rongfei sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Islam di Kashgar. Jauh sebelum Dinasti Qing menguasai Xinjiang pada abad ke-18, wilayah Kashgar telah lebih dahulu menjadi pusat penting peradaban Islam Turki sejak masa Kara-Khanid Khanate pada abad ke-10 Masehi.

Dinasti Kara Khanid merupakan kerajaan Muslim pertama dari bangsa Turki di Asia Tengah. Penguasanya yang terkenal, Satuk Bughra Khan, tercatat memeluk Islam sekitar pertengahan abad ke-10 dan kemudian menjadikan Islam sebagai identitas politik kerajaan. 

Dari Kashgar, pengaruh Islam berkembang luas ke wilayah Tarim Basin dan Turkestan Timur. Sejarawan menyebut bahwa sejak masa Kara Khanid, Kashgar berkembang bukan hanya sebagai pusat perdagangan Jalur Sutra, tetapi juga sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam dan budaya Turki. 

Tokoh besar seperti Mahmud al-Kashgari, penulis Diwan Lughat al-Turk, lahir dari lingkungan budaya ini. Karyanya hingga hari ini menjadi sumber penting sejarah bahasa dan masyarakat Turki.

Dalam beberapa percakapan penulis dengan masyarakat Uyghur di Kashgar, nama Xiangfei masih sering disebut sebagai bagian dari memori sejarah lokal. 

Seorang warga tua di sekitar kawasan Kota Tua Kashgar menyebut bahwa Xiangfei dipandang sebagai simbol perempuan Uyghur yang tetap membawa identitas budaya dan agama meskipun berada jauh di pusat kekuasaan Beijing.

Warga lainnya juga menceritakan bahwa masyarakat setempat lebih sering menghubungkan Xiangfei dengan keluarga Khoja dan sejarah Islam Turkestan dibanding sekadar legenda romantis istana Qing. 

Dikalangan sebagian masyarakat Uighur, kisah Xiangfei dianggap berkaitan erat dengan warisan ulama dan keluarga bangsawan Islam di Kashgar.

Pada abad ke-11, pengaruh Kara Khanid semakin kuat setelah wilayah Khotan yang sebelumnya beragama Buddha berhasil dikuasai. 

Peristiwa ini menjadi titik penting Islamisasi Xinjiang bagian selatan. Sejak masa itu, identitas Islam di Kashgar tumbuh semakin kuat dan bertahan hingga berabad-abad kemudian.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved