Berita Nasional

Nilai Tukar Rupiah Makin Melemah, Kini Sudah di Level Rp 17.300, Celios: Tidak Dipercaya Investor

Pelemahan tersebut dinilai bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan sinyal meningkatnya tekanan terhadap ketahanan ekonomi

Tayang:
Pinterest/syaafira
UANG BARU- Ilustrasi uang baru rupiah pecahan Rp 1.000 hingga Rp 100.000. Saat ini pemerintah sedang mewacanakan redenominasi rupiah. 

Menurut dia, kenaikan CDS membuat investor asing cenderung mengurangi kepemilikan aset berdenominasi rupiah, baik di pasar obligasi maupun saham.

“Pasar valas saat ini lebih takut dibandingkan pasar saham,” ujarnya.

“Itu terlihat dari pelemahan rupiah yang jauh lebih tajam dibanding koreksi IHSG,” lanjut Hefrizal.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan beberapa episode tekanan ekonomi sebelumnya.

Pada periode taper tantrum 2013, rupiah melemah dari sekitar Rp 9.700 menjadi di atas Rp 12.000 per dollar AS, sementara IHSG terkoreksi hampir 20 persen.

Sedangkan pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, rupiah sempat menyentuh Rp 16.000 per dollar AS dan IHSG anjlok lebih dari 35 persen akibat guncangan global.

Berbeda dengan dua periode tersebut, pelemahan rupiah pada 2026 justru terjadi ketika IHSG masih bertahan di kisaran 6.900-7.100 dengan koreksi yang relatif terbatas.

Menurut Hefrizal, kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan saat ini lebih dominan terjadi di pasar valuta asing dibanding sektor riil atau pasar saham.

Ia juga menilai lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor penting yang memperbesar tekanan terhadap APBN melalui peningkatan subsidi dan kompensasi energi.

Di sisi lain, penurunan transfer ke daerah dalam APBN 2026 serta kebijakan efisiensi belanja pemerintah turut mempersempit ruang fiskal pemerintah.

“Kombinasi tekanan eksternal dan keterbatasan fiskal membuat pasar mulai melakukan penyesuaian ulang terhadap risiko Indonesia,” katanya.

Meski begitu, Hefrizal menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum dapat disebut sebagai krisis karena fundamental ekonomi dan sektor riil masih relatif terjaga.

Namun, ia mengingatkan tekanan berkepanjangan tanpa respons kebijakan yang kuat dan kredibel dapat memperbesar risiko ke depan.

“Indonesia memang belum masuk fase krisis,” ujar Hefrizal.

“Tetapi ekonomi sedang berada dalam ujian ketahanan yang serius,” lanjut dia.

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved