Berita Nasional

Nilai Tukar Rupiah Makin Melemah, Kini Sudah di Level Rp 17.300, Celios: Tidak Dipercaya Investor

Pelemahan tersebut dinilai bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan sinyal meningkatnya tekanan terhadap ketahanan ekonomi

Tayang:
Pinterest/syaafira
UANG BARU- Ilustrasi uang baru rupiah pecahan Rp 1.000 hingga Rp 100.000. Saat ini pemerintah sedang mewacanakan redenominasi rupiah. 

“Artinya, rupiah saat ini tidak hanya melemah, tetapi juga diperdagangkan di bawah nilai wajarnya,” katanya.

“Sentimen dan arus modal lebih dominan dibanding perubahan fundamental ekonomi,” lanjut Hefrizal.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 justru mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen.

Namun, angka tersebut dinilai belum cukup untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi domestik.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai terdapat sejumlah anomali dalam data pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

“Pergerakan rupiah yang negatif (melemah) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kita rapuh sehingga tidak dipercaya investor,” ujar Nailul.

Menurut dia, apabila pertumbuhan ekonomi benar-benar solid seperti tercermin dalam data BPS, kondisi tersebut seharusnya diikuti penguatan rupiah dan meningkatnya arus modal asing masuk ke Indonesia.

Namun kenyataannya, rupiah justru terus bergerak melemah.

“Tahun lalu, ketika (ekonomi) dikabarkan naik tajam di Kuartal II dan IV, dianggap tidak mencerminkan kenaikan ekonomi Indonesia,” katanya.

“Maka meskipun kuartal I 2026 naik hingga 5,61 persen, investor melihat indikator lainnya sebelum melakukan investasi,” lanjut Nailul.

Ia menambahkan, investor domestik maupun asing kini cenderung mengambil langkah aman di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya kecenderungan investor domestik mengonversi rupiah ke dollar AS.

Menurut Nailul, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang membatasi transaksi pembelian valuta asing tanpa underlying juga menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap dollar AS.

“Ini yang menyebabkan permintaan dollar meningkat, rupiah semakin melemah,” ujarnya.

Sementara itu, Hefrizal juga menyoroti meningkatnya Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang mencerminkan naiknya persepsi risiko investor global terhadap kemampuan Indonesia memenuhi kewajiban utangnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved