Berita Nasional

Nilai Tukar Rupiah Makin Melemah, Kini Sudah di Level Rp 17.300, Celios: Tidak Dipercaya Investor

Pelemahan tersebut dinilai bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan sinyal meningkatnya tekanan terhadap ketahanan ekonomi

Tayang:
Pinterest/syaafira
UANG BARU- Ilustrasi uang baru rupiah pecahan Rp 1.000 hingga Rp 100.000. Saat ini pemerintah sedang mewacanakan redenominasi rupiah. 

TRIBUN-MEDAN.com - Nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga mendekati Rp 17.300 per dollar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional.

Pelemahan tersebut dinilai bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan sinyal meningkatnya tekanan terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global, kenaikan harga energi, dan terbatasnya ruang fiskal pemerintah.

Ekonom Universitas Andalas, Hefrizal Handra, menilai situasi tersebut menjadi peringatan yang tidak bisa diabaikan.

“Akhir April hingga awal Mei 2026 menjadi momen yang tidak bisa diabaikan. Rupiah melemah tajam hingga mendekati kisaran Rp 17.000-Rp 17.300 per dollar AS, sementara IHSG terkoreksi signifikan dalam waktu singkat,” kata Hefrizal Handra, dilansir dari Kompas.com.

Dalam periode yang sama, investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih dalam jumlah besar di pasar keuangan domestik.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Indonesia tengah menghadapi ujian berat terhadap ketahanan ekonominya.

Menurut Hefrizal, tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental ekonomi domestik, tetapi juga dipicu sentimen global dan meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa penguatan dollar AS yang berlangsung lebih lama dari perkiraan, ketidakpastian arah suku bunga global, hingga tensi geopolitik internasional menjadi faktor utama yang memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan nasional.

Selain itu, lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus 100 dollar AS per barel turut memperburuk tekanan terhadap Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

“Tekanan global saat ini tidak lagi bersifat sementara, tetapi cenderung persisten,” ujarnya.

“Ini yang membuat tekanan terhadap pasar keuangan domestik berlangsung lebih panjang,” lanjut Hefrizal.

Meski demikian, Hefrizal menilai pelemahan rupiah saat ini telah melampaui nilai fundamentalnya.

Berdasarkan pendekatan purchasing power parity (PPP) atau paritas daya beli dengan basis inflasi Indonesia dan Amerika Serikat sejak 2022, nilai tukar rupiah seharusnya berada di kisaran Rp 15.000 per dollar AS.

Namun, kurs aktual yang berada di sekitar Rp 17.200 per dollar AS menunjukkan rupiah berada sekitar 14-15 persen di bawah nilai wajarnya.

Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai overshooting, yakni ketika nilai tukar bergerak melampaui level fundamental akibat respons pasar yang berlebihan terhadap risiko jangka pendek.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved