Kasus Ijazah Jokowi

DOKTER Tifa Sebut Rismon Sianipar Sekarang Bak Preman, Tantang Debat dan Ragukan Roy Suryo

Dokter Tifa menegaskan tidak ada yang boleh melakukan judgement kepada seseorang yang keilmuannya bukan kompetensi kita.

TRIBUN MEDAN
PESAN EMOSIONAL - Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa (kiri), tersangka kasus tudingan ijazah palsu Jokowi, menuliskan pesan emosional kepada Rismon Sianipar. 

"Nah ini saya malah jadi bertanya kepada Rismon, benarkah dia ilmuwan? Sebab ilmuwan tuh tipikalnya enggak seperti itu, karakter ilmuwan tuh enggak seperti itu. Menurut saya akhir-akhir ini Rismon kok seperti preman ya."

"Bukan seperti ilmuwan lagi seperti yang kami kenal beberapa bulan yang lalu dan kami kagum dan kami bangga gitu loh, tapi kok akhir-akhir ini Rismon ini bukan lagi seperti ilmu seperti luntur gitu," ujar Dokter Tifa.

Dokter Tifa juga menekankan bahwa dirinya sebagai seorang Neuroscientist pun keilmuannya juga divalidasi oleh yang sama-sama Neuroscientist.

"Jadi tidak ada kita tuh boleh melakukan justifikasi atau boleh melakukan penilaian, apalagi menjatuhkan ilmuwan yang lain. Mas Roy Suryo itu ahli telematika yang diakui sudah 30 tahun lebih menjadi saksi ahli partner dari kepolisian," ucapnya.

Pernyataan Rismon

Rismon sebelumnya menyinggung tulisan Roy pada bab 4 dalam buku tersebut, yakni berisi ''Antara pelaporan TPUA vs Jokowi beserta para Termulnya".

Menurut Rismon, penggunaan istilah Termul itulah yang dianggapnya kurang pantas dicantumkan dalam penelitian ilmiah.

"Kan enggak cocok ya dalam sebuah tulisan yang harusnya ilmiah tetapi melabel orang, bukan hanya dalam hal percakapan saja ya, ucapan, tetapi tulisan juga dikatakan Termul ya, itu tidak pantas," tegas Rismon, dikutip dari YouTube Balige Academy, Senin (13/4/2026).

"Makanya dia (Roy Suryo) lebih cocok politisi, bukan peneliti. Itu di halaman 16 bab 4, sub bab pertama laporan TPUA ke Bareskrim, sub bab kedua, laporan Jokowi dan Termul-termulnya di Polda Metro Jaya," tambahnya.

Oleh karena itu, Rismon pun menekankan bahwa penggunaan diksi Termul itu sudah menunjukkan bahwa Roy itu bias sebagai peneliti.

"Harusnya itu kan dibuang diksi-diksi semacam itu, karena kita harus menempatkan kebenaran ilmiah tanpa preferensi."

"Kalau begini kan sudah preferensi namanya, menggunakan istilah termul, bahwa kebencian di situ, aroma kebencian ya, ini tulisan yang dipublikasi, yang dikatakan ini ilmiah, sangat disayangkan," ungkap Rismon.

Selain itu, Rismon juga menyebut bahwa penelitian yang dilakukan oleh Roy itu meragukan dan menyebutnya sebagai suatu kebohongan publik.

Karena menurutnya, tulisan Roy di Buku Jokowi's White Paper yang mengulas dugaan ijazah palsu Jokowi, bukan tulisan seorang peneliti. Oleh karena itu, dia menantang Roy untuk debat berdua.

"Kita bukan masalah benci atau tidak benci, tetapi tempatkan hasil penelitian itu di ruang penelitian, siap enggak? Roy Suryo saya tantang, berdua aja, enggak usah dibawa cheerleader-nya (kubunya), dua orang aja di sebuah podcast atau di televisi, dua orang aja gitu loh, biar jangan ngelantur," ungkap Rismon, dikutip dari YouTube iNews, Jumat (17/4/2026).

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved