Berita Viral

Diancam Trump, Respon Iran: Komandan dan Tentara AS Akan Menjadi Makanan Hiu di Teluk Persia

Dalam pernyataan, Enrahim Zolfaqari memperingatkan AS agar tidak melakukan invasi ke Iran. 

Editor: AbdiTumanggor
Istimewa
DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran memperingatkan, setiap upaya invasi Amerika Serikat (AS) atau pendudukan wilayah Iran akan berakhir dengan konsekuensi yang menghancurkan. Ia menegaskan, pasukan Amerika bahkan bisa menjadi “makanan hiu” di Teluk Persia.

Dalam pernyataan, Enrahim Zolfaqari memperingatkan AS agar tidak melakukan invasi ke Iran. Ia menyebut, langkah semacam itu akan menimbulkan konsekuensi berat dan memalukan bagi pasukan Amerika.

Zolfaqari menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan melakukan invasi pendudukan pulau-pulau di Teluk Persia. Ia menilai rencana tersebut tidak realistis dan dipengaruhi tekanan eksternal, bahkan menuduh Trump mengambil sikap yang tidak konsisten dan tidak dapat diandalkan.

Juru bicara Iran itu juga menyoroti keputusan militer AS yang dianggap menempatkan pasukan negaranya dalam “lubang mematikan”. Ia menyebut, pasukan AS di kawasan sudah menghadapi ancaman serius setiap hari, sementara sejumlah pangkalan telah hancur dan tentara AS terpaksa berlindung di pusat-pusat sipil dan ekonomi negara-negara regional, tetapi tetap rentan terhadap serangan.

Menyinggung kemungkinan invasi darat, Zolfaqari menegaskan bahwa pasukan Iran telah lama bersiap menghadapi skenario tersebut. Ia memperingatkan, setiap tindakan agresi atau pendudukan akan berujung pada penangkapan, fragmentasi, bahkan lenyapnya pasukan penyerbu.

“Para komandan dan tentara AS pada akhirnya akan menjadi makanan hiu di Teluk Persia,” tegasnya, menekankan betapa seriusnya konsekuensi bagi pasukan asing yang mencoba menyerang, dikutip dari Tasnim News Agency. 

Zolfaqari juga menyinggung pentingnya belajar dari sejarah Iran. Ia meminta para pemimpin AS menelaah pengalaman masa lalu ketika pasukan asing mencoba menginvasi negara tersebut, agar tidak mengambil keputusan keliru yang dapat menimbulkan banyak korban di pihak mereka.

Ia menegaskan, Angkatan Bersenjata Iran siap dan akan menghadapi dengan tegas setiap upaya nyata untuk melaksanakan ancaman semacam itu. 

Baca juga: Presiden Trump Ultimatum Iran dalam Waktu 48 Jam: Buka Selat Hormuz atau Semua jadi Neraka

Trump Berikan Waktu 48 Jam

Dalam ultimatumnya pada Sabtu (4/4/2026), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, yang strategis bagi jalur energi global.

Jika tidak ada kesepakatan dalam waktu 48 jam, Iran akan menghadapi konsekuensi besar.

"Waktu hampir habis—48 jam sebelum semua Neraka akan menimpa mereka," tulis Trump di platform Truth Social miliknya, dikutip dari AFP. 

Ancaman ini bukan yang pertama disampaikan Trump dalam beberapa pekan terakhir.

Sebelumnya pada 21 Maret 2026, Trump memperingatkan bahwa AS akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka Selat Hormuz tanpa syarat. 

Namun, dua hari setelah ancaman tersebut, presiden ke-47 AS itu sempat melunak dengan menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan positif. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved